Inflasi Naik, Ekonomi NTB Tetap Tangguh: Wahyudin Paparkan Data, Khalik: Alarm Harus Dijawab
Terjemahan

Anews. Inflasi Nusa Tenggara Barat pada Agustus 2026 naik menjadi 4,03 persen secara tahunan. Tetapi pada saat yang sama, Nilai Tukar Petani (NTP) justru menguat menjadi 129,67, kunjungan wisatawan nusantara menembus 1,41 juta orang, dan nilai ekspor sepanjang Januari–Juli melonjak 368,49 persen. Kontras angka tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga memang menjadi tekanan yang harus diwaspadai, tetapi tidak serta-merta menggambarkan melemahnya seluruh perekonomian NTB. Di tengah tekanan inflasi, sejumlah sektor produktif dan aktivitas ekonomi masyarakat justru memperlihatkan daya tahan yang kuat. Data tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB Dr. Drs. Wahyudin, MM, saat merilis Berita Resmi Statistik di Aula Tambora BPS NTB, Selasa (1/9/2026).

Secara langsung, Wahyudin menjelaskan, inflasi y-on-y NTB pada Agustus 2026 mencapai 4,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,85. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 4,49 persen, sementara terendah di Kota Mataram sebesar 3,95 persen. Secara month to month (m-to-m), inflasi Agustus tercatat 0,57 persen dan secara year to date (y-to-d) sebesar 2,35 persen.

Dengan tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi 4,82 persen. Sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, cabai rawit dan beberapa jenis ikan turut memberikan andil terhadap kenaikan harga, di tengah dinamika permintaan, produksi dan kondisi cuaca. Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah kelompok pengeluaran lainnya, termasuk informasi, komunikasi dan jasa keuangan. Namun, tekanan tersebut tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas, antara lain tomat, bawang merah, bawang putih, biaya sekolah menengah atas dan bensin.

Baca Juga :  Para Kades Sambut Baik Anjuran Studi Banding Untuk Bangun Desa

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, mengatakan inflasi tersebut harus dibaca sebagai alarm bagi pemerintah untuk memperkuat pengendalian harga, terutama terhadap komoditas yang langsung memengaruhi daya beli masyarakat.

“ Inflasi adalah alarm. Karena itu harus kita jawab dengan pengendalian harga yang lebih kuat. Tetapi kita juga harus melihat indikator ekonomi secara utuh,” kata pria yang akrab disapa Aka ini.

Salah satu indikator yang memperlihatkan daya tahan tersebut adalah NTP. Pada Agustus 2026, NTP NTB mencapai 129,67, meningkat 1,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan NTP terutama didorong Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang meningkat 1,51 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 0,07 persen.

Kondisi ini menunjukkan daya tukar petani membaik. Lima subsektor bahkan mencatat NTP di atas 100, yaitu tanaman pangan sebesar 125,93, hortikultura 189,58, tanaman perkebunan rakyat 111,09, peternakan 118,96 dan perikanan 113,16. Bagi pemerintah daerah, perkembangan NTP menjadi indikator penting karena menunjukkan bahwa sektor produksi masyarakat masih memiliki kemampuan untuk menciptakan nilai ekonomi di tengah tekanan harga.

“ Ketika harga yang diterima petani tumbuh lebih tinggi daripada harga yang mereka bayar, daya tukarnya membaik. Ini menjadi salah satu modal penting bagi ketahanan ekonomi masyarakat,” ujar Aka.

Ketahanan tersebut juga terlihat dari pergerakan sektor pariwisata. BPS mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Juli 2026 mencapai 51,54 persen, naik 6,68 poin dibandingkan Juni dan meningkat 1,62 poin dibandingkan Juli 2025.

Baca Juga :  Kunjungi Posko Pengamanan Lebaran, Gubernur Berpesan Prokes

Jumlah wisatawan nusantara mencapai 1.410.478 orang, meningkat 15,95 persen dibandingkan Juli 2025. Sementara jumlah wisatawan mancanegara yang melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) tercatat 9.039 orang, meningkat 29,50 persen dibandingkan Juni.

Peningkatan aktivitas pariwisata tersebut turut menggerakkan mobilitas masyarakat. Jumlah penumpang yang datang melalui angkutan laut pada Juli 2026 meningkat 26,52 persen secara bulanan, sedangkan penumpang yang berangkat naik 23,57 persen.

Pada penerbangan domestik, penumpang datang mencapai 129.516 orang atau meningkat 20,59 persen dibandingkan Juni, sementara penumpang berangkat mencapai 125.228 orang atau naik 19,57 persen.

Aktivitas ekonomi NTB juga tercermin dari kinerja perdagangan luar negeri yang tumbuh sangat kuat.

Nilai ekspor NTB sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai US 166,08 juta atau naik 38,90 persen secara tahunan.

Tembaga menjadi komoditas ekspor terbesar pada Juli dengan kontribusi 93,55 persen, disusul perhiasan dan permata serta ikan dan udang. Negara tujuan utama ekspor NTB antara lain Tiongkok, Thailand, Korea Selatan, Vietnam dan Taiwan.

Pada periode yang sama, nilai impor Januari–Juli 2026 tercatat US$47,87 juta, turun 72,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Aka, rangkaian indikator tersebut memperlihatkan bahwa perekonomian NTB sedang menghadapi tekanan harga, tetapi memiliki fondasi yang tetap bergerak.

“Inflasi harus kita kendalikan karena menyangkut daya beli masyarakat. Tetapi NTP yang menguat, pariwisata yang tumbuh, mobilitas yang meningkat dan ekspor yang melonjak menunjukkan bahwa kita memiliki daya tahan ekonomi,” katanya.

Baca Juga :  Menteri Pendidikan Malaysia Dan Gubernur NTB Saksikan MoU LPP NTB Dengan 18 Universitas Di Malaysia

Karena itu, pengendalian inflasi dan penguatan sektor produktif tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah perlu memastikan pasokan dan distribusi pangan tetap terjaga, sembari memperkuat sektor yang menjadi sumber pendapatan masyarakat.

Penguatan produksi pertanian, pengembangan pariwisata, peningkatan nilai tambah komoditas serta perluasan perdagangan menjadi bagian penting agar aktivitas ekonomi terus menciptakan pendapatan dan menjaga daya beli.

Bagi Pemprov NTB, kenaikan inflasi menjadi pengingat untuk bekerja lebih responsif terhadap perubahan harga, sementara perkembangan NTP, pariwisata dan ekspor menjadi modal untuk mempertahankan momentum pertumbuhan.

Aka menegaskan, pemerintah tidak ingin mengabaikan tekanan inflasi, tetapi juga tidak ingin melihat perekonomian daerah hanya dari satu indikator.

“Alarmnya harus kita dengarkan, tetapi kita juga harus tahu bahwa kita punya modal untuk menjawabnya. Tugas pemerintah adalah menjaga harga, memperkuat produksi dan memastikan pertumbuhan ekonomi memberi manfaat yang semakin luas kepada masyarakat,” ujarnya.

Data BPS tersebut pada akhirnya memperlihatkan dua sisi perekonomian NTB pada saat yang sama. Di satu sisi, inflasi 4,03 persen menuntut kewaspadaan dan pengendalian. Di sisi lain, NTP 129,67, pertumbuhan pariwisata, meningkatnya mobilitas masyarakat dan lonjakan ekspor menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tetap memiliki tenaga.

Inflasi adalah alarm. Daya tahan ekonomi adalah modal. Bagi NTB, tantangannya bukan memilih salah satunya, tetapi memastikan keduanya dikelola bersama: menjaga harga tetap terkendali sembari memperkuat sektor-sektor produktif yang menopang pendapatan, daya beli dan kesejahteraan masyarakat.(pr)

 

guest

0 Komentar
terbaru
terlama terbanyak disukai