Menggali Potensi Sumber Daya Pulau Maringkik
Terjemahan

Pulau Maringkik merupakan pulau yang terletak di Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur. Wilayah administratif yang termasuk dalam Pulau Maringkik adalah Gili Bembek Besar, Gili Bembek Kecil, Gili Kere, dan Gili Kuri yang justru lebih terkenal dari pulau maringkik itu sendiri.

Pulau maringkik memiliki luas 20 hektar are dengan jumlah penduduk pada tahun 2022 sebanyak 2.597 jiwa. Mayoritas mata pencaharian penduduk di pulau ini adalah nelayan, yang jika dipersentasikan jumlah tersebut mencapai 90%.

Pulau Maringkik telah ditetapkan menjadi desa wisata melalui keputusan bupati Lombok timur, dan merupakan satu-satunya desa pariwisata kepulauan yang ada di Kabupaten Lombok Timur No. 188.45/ QB3/Par/2021. Tentunya, dengan menjadi satu-satunya desa pariwisata kepulauan di Kabupaten Lombok Timur, menjadikan nilai tambah dan keunikan tersendiri bagi pulau maringkik dalam menarik kedatangan wisatawan.

Pulau maringkik memiliki potensi sumber daya alam yang besar, pesona alam yang ditawarkan di Pulau Maringkik dapat memanjakan mata yang melihatnya.

Adapaun pesona alam yang disuguhkan di pulau ini antara lain air laut yang jernih dan terlihat berkilau bak kristal saat terpapar sinar matahari, dan kontur geografis yang menarik yang dibuktikan saat menjelang sore hari air laut berangsur surut kemudian menampakkan dasar laut yakni pasir dan tumbuhan laut lainnya seperti rumput laut dan bintang laut.

Baca Juga :  Kodim 1615/Lotim dan Instansi Terkait Berikan Bantuan Korban Angin Puting Beliung

Keadaan alam seperti ini merupakan keunikan yang ditawarkan di pulau maringkik, dimana wisatawan akan berjalan di tengah laut yang seakan terbelah.

Selain itu mahasiswa KKN PMD Universitas Mataram 2023 mendirikan beberapa spot foto di atas tebing untuk menjadi daya tarik wisatawan.

Didirikan spot foto di tebing karena letak yang cukup strategis, yaitu wisatawan dapat melihat dari atas pemandangan laut yang dihiasi perahu-perahu yang berlalu lalang, pantai-pantai yang berada di sekitar pulau meringkik, dan kampung Pulau Maringkik itu sendiri.

Waktu yang baik untuk pengambilan spot foto adalah saat sunrise (matahari terbit) dan sore hari, namun tidak disarankan mengambil gambar pada sore hari ketika angin sedang berhembus kencang.

Selain pesona alamnya pulau maringkik juga memiliki berbagai budaya khas seperti kerajinan tenun, rumah masyarakat yang didominasi oleh rumah panggung yang kini jarang ditemui di Pulau Lombok, kemudian beberapa makanan khas yang masih jarang diketahui masyarakat luas bahkan masyarakat Lombok sendiri seperti tumpi dan lowar.

Terdapat beragam motif tenun khas maringkik antara lain motif bugis-mandar yang sering digunakan untuk prosesi pernikahan, kemudian ada motif gerintik yang berbentuk bintik-bintik hitam menyerupai rintik-rintik air hujan, motif lohong yaitu kain tenun ikat yang didominasi warna hitam, dan motif sepak yang bermakna ketaatan warga pulau maringkik dalam mempertahankan agama dan budaya adat yang dianut serta sebagai pertahanan diri dari pengaruh asing atau orang luar, dan masih banyak motif-motif unik lainnya.

Baca Juga :  Dinas PUPR Imbau Rekanan Tidak Mudah Percaya Dengan Oknum

Namun, pembangunan desa pariwisata di pulau ini belum maksimal. Seperti belum adanya penginapan, belum adanya tempat makan yang menjual makanan khas, aksesibilitas yang belum memadai, dan fasilitas sarana dan prasarana yang kurang.

Penginapan seperti home stay memang beum ditemukan di desa ini, tetapi wisatawan dapat menginap di rumah masyarakat sekitar sembari mencoba merasakan kehidupan masyarakat desa yaitu menimba air di sumur, nebak dan mobok yaitu mencari kerang ataupun udang di sore dan malam hari. Untuk makanan, sudah ada beberapa masyarakat yang menjual nasi, gorengan, dan minuman-minuman kemasan, akan tetapi letaknya masih berpencar-pencar, belum tertata di satu tempat, sehingga cukup menyulitkan wisatawan ketika berkunjung.

Aksesibilitas menuju pulau ini dapat melalui tanjung luar ataupun telong elong. Apabila melalui tanjung luar umumnya masyarakat akan datang pada pagi hari (sekitar hingga jam 9 pagi) karena perahu hanya tersedia pada jam tersebut di luar jam tersebut biasanya pengunjung harus mempunyai kenalan (orang pemilik perahu) terlebih dahulu untuk dihubungi, sedangkan apabila melalui telong elong perahu tetap tersedia, hanya saja apabila melalui telong elong tidak dapat melihat pemandangan indah seperti pulau pasir, sebagaimana melalui tanjung luar. Sarana dan prasarana pariwisata yang belum optimal lainnya adalah belum adanya ATM, MCK umum, dan air bersih yang masih terbatas.

Baca Juga :  BPKP, Dugaan Kerugian Negara Dalam Kasus Pasar Sambelia Intinya Ada

Ditetapkannya pulau maringkik menjadi desa wisata seharusnya merupakan angin segar bagi masyarakat karena berpeluang meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meminimalisir pengangguran, tetapi kesadaran masyarakat belum terbangun, hanya sebagian kecil masyarakat yang menyadari potensi ini, maka pembinaan dan pendampingan dari pemerintah Kabupaten Lombok timur perlu dilakukan, dan harus ada pergerakan dari pemerintah Desa Pulau maringkik sendiri untuk menggerakan dan mengajak masyarakat sekitar untuk berpartisipasi, sehingga masyarakat nantinya paham pengembangan pariwisata di wilayahnya.

Penulis

Indri Annisa Hasanah
Mahasiswi Prodi Ilmu Hukum Universitas Mataram
KKN di Desa Pulau Maringkik

 


Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments