Qur'an dan Literasi oleh : Zammi Suryadi, Pegiat Literasi
Terjemahan

Di meja kerja, beberapa buku masih belum sempat terbaca. Bahkan sampai menjelang Ramadhan tahun ini, meniatkan membaca saja, yang terbayang adalah sederet rutinitas harian yang harus “terbengkalai” gara gara buku yang tak lepas dari genggaman sebelum sedikitnya menebak isinya.

Sebelum era komputer dan smartphone, sedikitnya tiga buku harus tersedia untuk dibaca di waktu waktu haus dan lapar memuncak di siang Ramadhan sampai menjelang berbuka puasa. Kalau tak cukup karena habis terbaca sebelum Ramadhan usai, perpustakaan masjid atau buku pinjaman (jika ada judul baru) jadi alternatif mengurangi tidur dan kegiatan tak produktif lainnya saat puasa.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi memiliki tiga makna utama: 1) Kemampuan membaca dan menulis, 2) Pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu, dan 3) Kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.
Secara rinci, berikut adalah cakupan pengertian literasi menurut KBBI dan penggunaannya:
Kemampuan Dasar: Literasi adalah kemampuan individu dalam membaca dan menulis.
Keterampilan Spesifik: Literasi mengacu pada pengetahuan atau keterampilan dalam bidang tertentu, contohnya: literasi komputer, literasi sains.
Kecakapan Hidup: Literasi dimaknai sebagai kemampuan mengolah informasi untuk meningkatkan kualitas hidup.
Etimologi: Berasal dari bahasa Latin literatus, yang berarti orang yang belajar.
Literasi bukan hanya sekadar baca-tulis, tetapi mencakup kemampuan kognitif dalam memahami dan menggunakan informasi secara efektif.

Bagi banyak orang awam seperti saya, Al Qur’an cenderung dibaca sebagai kitab suci yang menjadi bagian ritual ibadah dan amal sholeh. Padahal, pahala adalah komplimen yang satu bundle dan serta merta dengannya. Maka dalam kegiatan literasi, Qur’an sebagai sumber informasi segala sesuatu dalam semesta seharusnya menjadi rujukan utama.

Sebagai bacaan, Qur’an (secara etimologi berarti bacaan) yang diwujudkan berbentuk buku (mushaf), menuntut pengetahuan dan keterampilan membaca huruf hija’iyah dan kemampuan membaca susunan kata menjadi kalimat terstruktur.
Nantinya, kemampuan itu berkembang sendiri seiring latihan dan mencicil belajar tentang panduan membaca Qur’an sesuai aturannya.
Kata orang, memang lebih mudah membaca Qur’an dengan pengetahuan tentang bahasa Arab sebagai media komunikasi apalagi memahami dasar dasar sastra.

Namun begitu, Qur’an sudah memiliki pesona sendiri bagi yang buta kitab suci karena sering dibaca dengan seni suara yang indah dan dikutip sebagai referensi ketika berkaitan dengan urusan urusan manusia.

Seperti dijelaskan banyak ulama, Qur’an sebagai wahyu (perkataan) langsung Tuhan yang dikompilasi dan disusun sedemikian rupa menggunakan seni sastra tinggi sebagai petunjuk dan kebenaran yang sudah diturunkan 14 abad lalu.

Salah satunya Doktor Taha Husain (1889 – 1973),
intelektual, sastrawan, dan “Bapak Sastra Arab” Mesir modern tuna netra yang berpengaruh besar yang meraih gelar PhD dari Universitas Sorbonne, Prancis, menyatakan Al-Qur’an lebih baik daripada prosa dan syair, karena keistimewaannya tidak bisa ditandingi oleh jenis sastra mana pun. Gaya bahasanya unik, memiliki rima, irama, dan struktur yang menakjubkan. Para ulama juga mengaguni
mukjizat linguistik (Balaghah) dari sisi sastra, yang menundukkan kesombongan sastrawan Arab masa lalu. Keindahannya digunakan untuk melemahkan pihak-pihak yang meragukannya.
Uniknya, Qur’an ditafsirkan terus menerus bahkan oleh ahli nya meski seluruh pesan kebenarannya telah pula dicontohkan oleh Rosululloh Muhammad sebagai penerima pertama buku semesta bernama Qur’an itu karena memang disusun untuk menjawab persoalan manusia di segala zaman dengan evolusi pemahamannya.

Di dunia sains, beberapa temuan abad 20 semisal Edwin Hubble baru mengungkap bahwa galaksi-galaksi saling menjauh satu sama lain, yang membuktikan bahwa alam semesta terus meluas (bukan statis). Lalu ada teori Big Bang atau embriologi modern.

Belum lagi fakta sejarah, visi dan misi kebenaran itu telah banyak dibuktikan dengan pendekatan sains sesuai perkembangan ilmu manusia seperti data ilmiah tentang mukjizat Nabi Musa yang membelah lautan.

Perintah membaca sebagai kalam pertama Tuhan misalnya, banyak ditafsirkan sebagai cara memaknai fenomena kehidupan. Bagi saya sendiri, membaca yang literally means to read adalah membaca Qur’an itu sendiri terus menerus tanpa henti hingga Tuhan menghadiahkan pemahaman, pengetahuan dan hidup dengan kesadaran itu.

Ya, Qur’an juga haruslah menjadi buku bacaan wajib setiap Ramadhan. Apalagi dengan reward pahala hanya dengan membacanya. Meskipun seringkali juga saya membayangkan akan menemukan pemahaman atau makna sejelas tulisan di buku tentang Mengenal Alloh dan sejenisnya sembari segera mencaritahu dimana keberadaanNya dan seberapa dekat kita dengaNya.

Qur’an memang hanya kumpulan firman. Bukan wujud Tuhan itu sendiri. Walaupun di ayat tertentu, Tuhan berkata, Aku lebih dekat dari urat lehermu namun pembuktian memang harus dialami setelah mengetahui.

Di era generasi Z ini, orang bisa berdalih membaca Qur’an di smartphone. Atau juga judul judul buku lainnya dari penulis dan penerbit populer sebagai bentuk konvergensi.
Namun buku sebagai benda yang terbuat dari kertas dan tinta adalah cara terbaik memelihara semangat literasi dalam konteks membaca.
Biarlah smartphone dan komputer menjadi milik medsos, AI dan kebisingan informasi serta kemewahan digital yang melenakan.

Lihatlah bukumu. Wajahnya tenang dan sederhana, siap memberimu pengalaman lebih nyata dari gawai paling canggih sekalipun.

 

Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
terbaru
terlama terbanyak disukai
Inline Feedbacks
View all comments