Pasar Pancor Terancam Kebakaran, Kabel Semrawut dan Drainase Buruk
Terjemahan

Anews. Pasar Pancor di Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, menghadapi persoalan serius pada instalasi listrik dan drainase. Kabel yang belum tertata dan beberapa kali terbakar akibat korsleting membuat pengelola pasar khawatir insiden lebih besar terjadi. Ancaman itu semakin tinggi karena sebagian bangunan lapak pasar pasar menggunakan material kayu, triplek dan bambu.

‎Kepala Pasar Pancor, Rudi Wahyudi, mengatakan penataan instalasi listrik menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah kebakaran. Ia mengusulkan setiap los memiliki panel kelistrikan sendiri sehingga jaringan listrik lebih tertata dan aman.

‎“Untuk antisipasi kebakaran akibat aliran listrik, setiap los harus punya panel kelistrikan,” kata Rudi.

‎Menurut Rudi, sedikitnya tiga panel kelistrikan dibutuhkan untuk penataan tersebut. Perkiraan biayanya mencapai sekitar Rp100 juta lebih.

‎Persoalan bukan hanya soal ketersediaan panel. Rudi menyebut kapasitas dan pola penyambungan listrik di Pasar Pancor saat ini masih menjadi sumber kerawanan. Kawasan pasar yang luasnya sekitar dua hektare masih mengandalkan satu meteran listrik berkapasitas sekitar 1.500 KWh untuk penerangan.

“Model penyambungan listrik kita masih semrawut. Beberapa kali kejadian kabel terbakar akibat kornsleting,” ujarnya.

‎Kondisi instalasi tersebut, kata Rudi, tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran, tetapi juga dapat membahayakan pedagang dan pengunjung akibat potensi sengatan listrik.

‎Rudi berharap persoalan tersebut mendapat perhatian dari Dinas Perdagangan atau Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dalam hal ini Bupati H.Haerul Warisin. Ia mengatakan kebutuhan perawatan pasar selama ini belum ditopang anggaran yang memadai bahkan tidak ada.

‎Ia mengusulkan sekitar 3 persen dari hasil retribusi pengelolaan pasar yang masuk ke PAD dapat dialokasikan untuk biaya perawatan pasar. Dengan begitu, kerusakan fasilitas dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

‎“Anggaran perawatan belum ada. Itu yang kami harapkan hingga saat ini, tiga persen saja dari hasil pasar untuk perawatan,” katanya.

‎Persoalan lain yang tak kalah mendesak adalah drainase. Pasar Pancor disebut tidak memiliki saluran air yang memadai. Saat hujan turun, air menggenangi kawasan pasar.

‎Rudi meminta Dinas Perdagangan juga dapat melihat langsung kondisi pasar, atau semua pasar di kab Lotim, bukan hanya menunggu laporan dari pengelola.

‎“Saluran air tidak ada. Kalau hujan, banjir. Coba dinas sekali-sekali turunlah agar tahu kondisi pasar kita,” ujarnya.

‎Ditempat yang sama, Camat Selong Lalu Ridho Arindi, juga menyampaikan kepada media, persoalan yang disampaikan pengelola Pasar Pancor perlu menjadi perhatian pemerintah. Penataan drainase dan kelistrikan dinilai menjadi bagian penting dalam mitigasi risiko di pasar.

‎“Harapan kita sama seperti Pak Kapas. Mitigasi drainase dan kelistrikan perlu ditata ulang,” kata dia.

‎Menurut Camat Selong, kondisi fisik pasar yang masih menggunakan material kayu dan bambu membuat risiko kebakaran semakin mengkhawatirkan. Jika terjadi kebakaran, api berpotensi cepat merambat.

‎“Pasar kondisinya rentan. Kayu dan bambu, jika ada api cepat terjadi kebakaran,” ujarnya.

‎Sembari menunggu penanganan pemerintah, Camat Selong juga mendorong pengelola dan pihak terkait memperkuat pengawasan. Kontrol rutin dan koordinasi perlu diaktifkan sebagai langkah jangka pendek.

‎Pemerintah daerah tentu melihat kondisi Pasar Pancor dan menunggu ketersediaan anggaran. Revitalisasi pasar diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk memperbaiki fasilitas, termasuk sistem kelistrikan dan drainase.

‎Bagi pengelola pasar, persoalannya bukan sekadar kenyamanan. Penataan jaringan listrik dan saluran drainase pada pasar menjadi kebutuhan keselamatan yang tidak bisa terus ditunda.

Baca Juga :  Koramil Sembalun Bersama Babinkamtibmas Bergerak Cepat Bersihkan Tanah Longsor

 

guest

0 Komentar
terbaru
terlama terbanyak disukai