Dirjen Pendis Kemenag RI Hadiri Wisuda ke-54 UIN Mataram:
Terjemahan

Anews. Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti prosesi Wisuda ke-54 Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang digelar pada Sabtu, 25 April 2026. Momentum akademik ini terasa semakin istimewa dengan kehadiran Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Amin Suyitno, M.Ag yang turut memberikan orasi ilmiah dan motivasi kepada para wisudawan.

Sedangkan sebanyak 796 wisudawan resmi dikukuhkan oleh Rektor UIN Mataram sebagai generasi intelektual baru yang siap mengabdi di tengah masyarakat. Di balik balutan toga dan senyum yang merekah, tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan, pengorbanan, serta proses pembentukan karakter yang tidak sederhana.

Acara Wisuda ini pun bukan sekadar seremoni penutup studi akademik, melainkan gerbang awal menuju tanggung jawab besar dalam mengaktualisasikan ilmu di kehidupan nyata.

Sambutan Rektor UIN Mataram Prof. Dr. TGH. Masnun, M.Ag menegaskan bahwa hari wisuda merupakan titik kulminasi dari kerja keras, doa, dan ketekunan para mahasiswa selama menempuh pendidikan. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa wisuda bukanlah garis akhir, melainkan titik awal perjalanan pengabdian.

Rektor juga menekankan bahwa gelar akademik yang disandang bukan sekadar simbol intelektual, melainkan mandat moral dan sosial. Para lulusan diharapkan mampu menjadi insan akademik yang berdampak, tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga adaptif, berkarakter, dan solutif dalam menghadapi kompleksitas zaman.

Baca Juga :  Rektor Unram Minta Parlemen Lakukan Diplomasi Bidang Pendidikan

Lebih jauh, Rektor juga menggarisbawahi pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi utama dalam setiap langkah kehidupan para lulusan.

Rektor juga memberikan penekanan khusus terkait peran strategis lulusan berdasarkan jenjang pendidikan. Lulusan sarjana (S1) diharapkan menjadi pelaksana perubahan di tengah masyarakat, lulusan magister (S2) sebagai pengembang dan pengkaji ilmu yang mampu menjembatani teori dan praktik, sementara lulusan doktor (S3) diharapkan menjadi produsen pengetahuan yang mampu melahirkan gagasan dan paradigma baru bagi kemajuan peradaban.

Dalam nada reflektif, bapak Rektor mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan sejati bukanlah jabatan atau materi semata, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat luas.

Sementara itu, dalam orasi ilmiahnya, Direktur Pendis Kementerian Agama RI (Prof. Dr. KH. Amin Suyitno, M.Ag) menyampaikan sejumlah pesan penting yang sarat makna. Ia membuka dengan menegaskan bahwa wisuda sejatinya adalah “haflah” atau perayaan bagi para orang tua wisudawan. Di balik keberhasilan para lulusan, terdapat doa yang tak pernah putus, pengorbanan yang tak terhitung, serta harapan yang terus dipanjatkan oleh orang tua. Oleh karena itu, ia mengajak para wisudawan untuk menundukkan kepala, bersujud, dan menyampaikan terima kasih yang tulus kepada orang tua sebagai pahlawan utama dalam perjalanan pendidikan mereka.

Baca Juga :  Ketidakmampuan Kelompok Wanita Nelayan untuk Mengolah Hasil Laut di Labuhan Haji

Lebih lanjut, ia menggambarkan wisuda sebagai tradisi rutin kampus yang menyimpan kenangan pahit dan manis. Terutama pada jenjang sarjana, dinamika bimbingan dan ujian skripsi seringkali menjadi pengalaman paling berkesan—bahkan dengan nada humor ia menyebut bahwa terkadang pembimbing bisa terasa “lebih kejam” daripada penguji. Namun di balik itu semua, terdapat proses pembelajaran yang membentuk ketangguhan mental dan kedewasaan akademik mahasiswa.

Dalam penjelasannya yang reflektif, Dirjen Pendis juga menguraikan perbedaan karakter keilmuan pada setiap jenjang pendidikan. Ia menyebut bahwa lulusan S1 adalah Rajulun yata’allamu syaian—orang yang baru mengetahui sesuatu dalam kadar dasar; lulusan S2 adalah Rajulun yatahaqqaqu syaian—mampu menganalisis, membandingkan, dan mengemukakan pendapat; sedangkan lulusan S3 adalah Rajulun yajtahidu syaian—seorang mujtahid yang mampu menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru dalam khazanah keilmuan.

Penjelasan ini menjadi pengingat bahwa setiap jenjang memiliki tanggung jawab intelektual yang semakin kompleks dan mendalam.
Ia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada rutinitas akademik semata, melainkan harus mampu memproduksi riset yang berdampak nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki tiga instrumen utama, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat (PKM). Ketiganya harus berjalan secara sinergis agar ilmu tidak berhenti sebagai teori, tetapi hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan nyata di tengah masyarakat.
Tak kalah penting, ia juga mengingatkan bahwa selain orang tua, guru dan dosen merupakan pahlawan kedua yang memiliki jasa besar dalam membentuk intelektualitas dan karakter para wisudawan.

Baca Juga :  Kemendikbud akan Terbitkan Tulisan Santri

” Oleh karena itu, penghargaan dan rasa terima kasih kepada para pendidik menjadi bagian penting dari etika keilmuan yang harus dijaga oleh setiap lulusan,” ungkapnya.

Prosesi Wisuda ke-54 UIN Mataram ini pun menjadi simbol lahirnya generasi baru yang diharapkan mampu menjawab tantangan zaman. Di tengah dinamika global yang penuh disrupsi, para lulusan dituntut tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta solusi, inovator, dan agen perubahan yang membawa nilai-nilai keilmuan dan spiritualitas dalam setiap langkahnya.

” Akhirnya, dengan penuh rasa bangga dan harapan, ucapan selamat disampaikan kepada seluruh 796 wisudawan UIN Mataram. Semoga ilmu yang telah diraih menjadi cahaya yang menerangi jalan kehidupan, menjadi amal jariyah yang terus mengalir, serta menjadi kontribusi nyata bagi kemajuan umat, bangsa, dan peradaban,” tutupnya.

guest

0 Komentar
terbaru
terlama terbanyak disukai
Inline Feedbacks
View all comments