Budaya Sebagai Modal Sosial Bernegara Tema Maulid Nabi Muhammad SAW BP MAS
Terjemahan

Ampenan News. Mengangkat tema “Budaya Sebagai Modal Sosial Bernegara” dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yang diselenggarakan oleh Majelis Adat Sasak, yang diselenggarakan pada hari Jum’at, 21/10.

Ketua Badan Pengurus Majelis Adat Sasak (BP-MAS) Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si,.menyampaikan, kegiatan ini sebagai ajang mempererat tali silaturrahmi sekaligus memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

” mengapa kita membutuhkan silaturrahmi, ini berguna untuk membangun jejaring atau network sebagai modal diri kita yang bukan hanya sebagai modal sosial akan tetapi sebagai modal ekonomi,” katanya.

Pada saat ini, Ketua BP-MAS melanjutkan, kita tidak lagi ditanyakan berapa omzet yang dipunyai akan tetapi berapa banyak jejaring atau network yang dimiliki.

” dengan silaturrahmi ini pula sebagai wadah mempererat dalam mengingatkan bahwa budaya kita sebagai modal dalam bernegara, begitu juga untuk menangkal para faham faham yang tidak sesuai dengan agama, budaya yan kita miliki apalagi faham radikalisme dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Baca Juga :  ASLI Tetap Tegak Lurus Berkomitmen Menjaga Marwah Bangsa Sasak

Apalagi momentum saat ini, lanjut Miq Bayu panggilan akrabnya, dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yang seharusnya mencontoh suri tauladannya bagaimana membangun network kepada raja raja pada waktu itu dengan menggunakan surat menyurat sebagai upaya membangun silaturrahmi dalam menyebarkan ajaran islam.

” dalam era globalisasi digital saat ini seakan akan kita dipagi hari membuka pintu dan jedela, dimana kita bisa menghirup udara segar akan tetapi bisa juga masuk berupa binatang ular , kalenjengking bahkan binatang yang lainnya sehingga dengan budaya inilah kita menangkal hal hal yang tidak kita inginkan memasuki rumah kita,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Narasumber Drs. H. L. Agus Fathurrahman, menyampaikan bahwa apabila kita berbicara budaya dan sosial maka dua hal yang kapital dalam pengelolaan negara dan bangsa ini, dua  hal yang dibahas bila terkait sosial, dinamika dan system sosial itu.

Baca Juga :  Langgam dan Doa Sasak Berkumandang di Pelantikan Ketua Umum Laskar Sasak

” harus dibedakan budaya dengan kebudayaan, kalau budaya, itu sifatnya esoteris, sesuatu yang butuh pemahaman, penghayatan, internalisasi yang kuat baru di ekspresikan. Ekspresi inilah yang dimaksud kebudayaan,” pungkasnya.

Jadi, lanjut Miq Agus, panggilan akrabnya budaya dan kebudayaan termasuk kita membahas esotetis dan eksoteris sehingga bagaimana cara berfikir , berbicara dan bersikap, itu adalah budaya.

Kemudian dilanjutkan narasumber kedua TGH. Subki Assasaki menyampaikan budaya nenek moyang kita yang ditinggalkan banyak, didalam syariat itu mengumpulkan apa yang disebut sunnah dalam islam, itu juga banyak dirangkum dari hal hal yang baik.

” Rasulullah SAW itu beda tipis dengan kita, jangan membayangkan bahwa Rasulullah itu sosok yang tidak bisa tersentuh, justru Dialah yang paling Open Head, Hand, Heart sampai open house buat siapa saja tanpa terkecuali baik muslim maupun non muslim, bahkan seorang yahudi pun yang ingin dirawat dimasjid justru dipersilahkan oleh Rasulullah SAW,” katanya.

Baca Juga :  Konsolidasi Lombok Mercusuar oleh DPP Laskar Sasak untuk Pemilu Damai

Kegiatan kali ini dihadiri oleh Seluruh Wali Paer ( Pengurus wilayah kabupaten/kota) Majelis Adat Sasak, Tokoh Agama , Tokoh Muda, Tokoh Pariwisata dan merupakan Pramuwisata terbaik Asia, Fahrurrozi,
Advokat, Tokoh Wanita, para pengurus MAS.

Lebih lengkapnya dan terangkunnya kegiatan tersebut ada di channel kami ini


Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments