Pengaruh Kesehatan Mental dan Fisik Belajar Daring serta Efek yang Ditimbulkan Akibat COVID-19

Pembelajaran daring pada saat ini merupakan peroses belajar yang secara jauh atau dilakukan tanpa tatap muka secara langsung antara siswa dan guru akan tetapi peroses belajar ini dlakukan melalui jaringan internet secara online. Hal ini menjadi tantangan besar bagi seorang guru dan murid karena dalam kondisi seperti ini guru harus dituntut agar bisa mengelola maupun mendisain media pembelajaran (media online).

Dengan sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan juga untuk mencegah sekaligus mengantisipasi kebosanan siswa dalam pembelajaran daring tersebut. Tidak hanya itu saja namun dalam penerapan belajar online ini tentu tidak sedikit siswa yang akan mengalami kesulitan dalam belajar yang dipicu oleh beberapa faktor.

Pembelajaran daring merupakan bentuk adaptasi pada pandemi Covid-19 di bidang pendidikan yang menggunakan instrumen tugas sebagai pembelajaran bagi siswa. Permasalahan yang dialami oleh siswa Indonesia adalah kesehatan mental yang terganggu, terutama akibat benyaknya tugas yang diberikan ketika masa pembelajaran daring. Berbagai studi menemukan bahwa tugas memiliki dampak positif pada pencapaian, akan tetapi pemberian tugas dengan durasi waktu yang lama serta beban tugas yang berat dapat menimbulkan masalah psikologis pada siswa. Masalah lain pada pembelajaran daring adalah penggunaan sosial media yang dapat menimbulkan kelelahan. Untuk mengatasi permasalahan ini, orang tua dan guru sebaiknya berperan sebagai support system pada siswa.

Kurangnya interaksi fisik antara siswa dan guru karena dalam system pembelajaran online ini kebanyakan siswa hanya diberikan tugas melalui media online/lewat aplikasi online seperti mealui Whatsapp maupun Classroom. Dari hal ini banyak siswa yang kesulitan dalam belajar maupun mengerjakan tugas karena tidak ada penjelasan-penjelasan awal dari guru tentang tugas yang diberikan, siswa hanya dituntut untuk mengerjakan dengan tidak diberikannya penjelasan secara lebih detail terlebih dahulu, yang pada akhirnya menimbulkan kebingungan pada siswa dalam mengerjakan tugasnya sehingga mengurangi semangat belajar dalam mengerjakan tugas dan tentu hal ini membuat banyak siswa yang mengeluh dengan keadaan sepert ini.

Adanya tugas berlebih yang diberikan oleh guru kepada siswa dan penekanan pengerjaan yang diberikan dengan waktu yang relative lumayan singkat membuat anak menjadi tertekan dan dipaksa untuk mengerjakan tugas tersebut dengan cepat. Tentu hal ini perlu menjadi perhatian dalam system pendidikan karena siswa memerlukan waktu untuk beristirahat dan juga menenangkan pikiran agar tidak menjadi beban bagi siswa tersebut dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Kurangnya interkasi secara lagsung diantara guru dan siswa tentu akan mengakibatkan berkurangnya internalisasi nilai-nilai karakter yang pada semestinya harus ditanamkan oleh seorang guru kepada dalam siswa yang pada akhirnya akan mengakibatkan degradasi moral pada siswa disebabkan oleh tugas guru yang seharusnya bukan hanya mengajar, mentrasferkan ilmu pengetahuan (pelajaran) saja, tetapi seorang guru juga dituntut untuk mendidik (pembentukan akhlak dan karakter) siswa. Pada kasus ini pemberian tugas yang diberikan oleh guru kepada siswa dengan porsi tugas yang berlebih akan menjadi pengaruh pada tekanan psikologis dan mental pada siswa dalam pembelajaran jarak jauh melalui media online.

Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim angkat suara terkait banyaknya keluhan para siswa yang merasa terbebani dengan banyaknya tugas sekolah yang diberikan guru saat belajar di rumah karena pandemi virus Corona. Nadiem mengakui selama ini masih banyak sekolah yang belum mengimplementasikan dengan baik proses pembelajaran yang menyenangkan.

“Ini isu terbesar bahwa banyak sekali sekolah maupun guru yang masih belum fully mengimplementasikan pembelajaran yang menyenangkan dan juga menyajikan kurikulum dengan cara yang menyenangkan. Ini bukan cuma masalah online learning, tapi ini masalah untuk online dan offline learning,” kata Nadiem dalam telekonferensi yang digelar Kemendikbud, Kamis (9/4/2020).
Pada hal ini Menteri Pendidikan dan Budaya, Nadiem Makariem menyadari pada saat ini masih banyak guru yang memberikan tugas atau pekerjaan rumah(PR). Yang banyak kepada para siswa dalam peroses secara daring. Namun, dia mengatakan hal itu merupakan akibat banyak guru yang masih melakukan proses transisi dari sistem belajar secara tatap langsung ke sistem belajar online. Untuk itu, Nadiem mengaku masih memahami proses adaptasi yang dilakukan para guru tersebut. Namun, dia juga sudah memberikan imbauan keras kepada para tenaga pengajar untuk memberikan bimbingan terbaik selama proses belajar online, bukan hanya memberikan siswa banyak pekerjaan rumah. Nadiem Makarim juga meminta kepada para dinas pendidik dan guru untuk tidak berorientasi pada banyaknya jumlah bahan-bahan pembelajaran yang diberikan kepada murid.

Dari responden survey yang diadakan oleh Ikatan Psikolog Klimis bahwa 23% siswa menglami stress akibat pembelajaran daring (Haldi & Fikri,2020). Perubahan system penddikan ke pembelajaran daring mengakibatkan sejumlah sekolah melakukan adaptasi. salah satunya adalah dengan memberikan pekerjaan rumah (PR) yang lebih banyak dibandingkan ketika pembelajaran tatap muka. Akan tetapi, berdasarkan survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia tahun 2020, pemberian PR yang banyak justru memberikan beban kepada siswa dan mengakibatkan kelelahan (Tirto, 2020). Survei yang melibatkan 1.700 siswa dari 54 kabupaten/kota dengan 20 provinsi yang berbeda ini, menyatakan bahwa 77% responden merasa kelelahan akibat tugas yang banyak dan dikerjakan dalam waktu yang singkat. Selain itu, sebanyak 73,2% responden merasa terbebani dengan PR yang banyak.

Dengan meningkatnya jumlah pemberian tugas tentu akan memiliki berbgai dampak bagi siswa.

Dampak dari pemberian tugas ini tidak hanya menimbulkan stres dan kelelahan, tetapi juga pernah sampai memakan korban bunuh diri. Dilansir dari Manado Tribunnews, siswa SMP di Kota Tarakan mengalami tekanan akibat tugas yang menumpuk dan tuntutan untuk menyelesaikan tugas apabila korban ingin naik kelas. Penumpukan tugas ini tidak dikarenakan kemalasan pada korban, akan tetapi dikarenakan ketidak pahaman korban terhadap tugas yang dikerjakannya. Berbagai macam tekanan ini mengarahkan siswa tersebut untuk mengakhiri hidupnya pada 30 Oktober 2020.

Menurut Maharani (2016), menyebutkan ada beberapa aspek yang menyebabkan stress akibat belajar daring, sebagai berikut:

1. Aspek fisik yaitu ditandai adanya gangguan fisik, kualitas tidur dan makan yang terganggu serta kelelahan. Bukan dari penyakit fisik melainkan sinyal beban yang dirasakan tubuh yang membuat timbulnya gangguan pada fisik.
aspek emosi ditandai adanya kecemasan, penurunan minat terhadap aktivitas dan labilitas perasaan.

2. Aspek kognitif ditandai adanya persepsi negatif baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan

3. Aspek perilaku ditandai dengan timbulnya perilaku melawan atau menghindar sebagai bentuk luapan stres.

Dengan demikian, stress menujukkan bahwa terdapat fenomena yang berbeda dari kondisi idealnya dibandingkan dengan kondisi belajar secara daring. Situasi belajar seharusnya dibuat agar anak merasa nyaman sehingga anak dapat memahami materi dengan baik dan jauh dari stres. Namun dalam kondisi pandemic seperti saat ini menunjukkan peningkatan indikasi stres pada siswa. Kelelahan yang dirasakan bukan semata-mata dikarenakan sekolah yang dimulai pada pukul 07.00 pagi hingga 14.00 siang tersebut. Kelelahan yang dialami subjek juga diakibatkan karena dirinya merasa banyak beban pikiran ditambah dengan tugas-tugas yang diberikan setiap harinya membuat subjek harus bekerja lebih extra sampai harus mengorbankan jam tidurnya.

Hal tersebut membuat pada pagi harinya murid harus telat bangun dan merasakan kelelahan pada dirinya dikarenakan jam istirahat yang berkurang. Kelelahan tersebut didukung karena sekolah yang dimulai pada pukul 07.00-14.00 tersebut dilakukan secara online yang membuat siswa harus standbye didepan hp untuk mengikuti kelas dan mengerjakan tugas setelah kelas sudah berakhir. Kelelahan yang mereka alami hingga membuat salah satu atau sebagian siswa sampai tertidur saat kelas sudah dimulai. Dan hal tersebut membuat siswa menjadi tertinggal dalam menerima informasi yang diberikan oleh guru pada saat jam pelajaran online berlangsung, oleh karenanya maka akan terjadi ketidak pahaman oleh siswa itu sendiri dalam mengerjakan tugas maupun pada materi yang diberikan.

Dampak negatif dari stres terhadap siswa dapat berupa penurunan konsentrasi dan pemusatan perhatian selama pelajaran, penurunan minat, demotivasi diri bahkan dapat menimbulkan perilaku kurang baik seperti sengaja terlambat sekolah, minum alkohol, merokok dan sebagainya (Abdulghani, 2008). Hal tersebut didukung karena siswa tersebut ingin mencoba menenangka diri dengan melakukan hal yang kurang baik akibat pengaruh dari lingkungan maupun pengaruh dari dunia aya yang kini banyak dilihat melalui filem maupun video yang ada pada media online.

Hal lain yang menyebabkan kesulitan tidur diantaranya karena mereka merasa terbayang-bayang dan memikirkan tugas yang belum dapat mereka selesaikan secara langsung dan pemikiran seperti itu yang menjadi penyebab otak siswa menjadi terbebani. Karena hal seperti itu membuat para siswa merasa saat akan tidur selalu terpikirkan tugas beserta deadline yang hanya singkat namun tugas selalu diberikan setiap harinya oleh guru.

Kesulitan tidur ini hampir sering dirasakan karena hampir setiap hari selalu diberikan tugas. Tugas yang belum terselesaikan, namun setiap harinya selalu ada tugas baru yang berdatangan sehingga .

Perubahan dalam pola makan juga dialami oleh para siswadalam memenuhi kebutuhan nutrisi bagi tubuh mereka. Pola makan menjadi tidak teratur dikarenakan sekolah yang dimulai pada pukul 7 pagi hingga 2 siang tersebut dimanfaatkan siswa untuk mengerjakan tugas apabila terdapat waktu senggang.

Dengan demikian adapun dampak pada fisik yang mengalami stress yaitu seperti yang diungkapkan Honestdoc editorial team (2020). sebagai berikut yaitu:
sakit kepala dan dada. Tegangnya otot dan saraf di kepala yang diakibatkan oleh stres akan menyebabkan sakit di bagian kepala, migrain hingga kesemutan di satu sisi atau kedua sisi kepala. ketegangan atau nyeri otot, saat Anda mengalami stres, maka otot-otot akan menegang dan akan kembali normal saat stres berlalu.
kelelahan, mungkin kita pernah merasa cepat lelah walaupun tidak bekerja seharian dan sudah istirahat cukup.

Kemungkinan besar hal tersebut merupakan gejala stres karena berpikir terlalu berat. Patut dicurigai apabila mengalami kelelahan yang tak kunjung hilang. gangguan Pencernaan, stres dapat mempengaruhi pergerakan makanan dalam usus. Saat mengalami stres, tidak heran jika muncul reaksi di perut, karenalambung dan usus memiliki saraf yang terhubung langsung ke otak. Sehingga bisa mengalami mual, muntah, sakit perut, diare, GERD, dan penyakit pencernaan lainnya. gangguan pada sistem reproduksi, ternyata stres dapat mempengaruhi tingkat kesuburan pada pria dan wanita.

Menurunnya system imun tubuh, kadar hormon kortisol akan meningkat ketika Anda mengalami stres, dan mampu melemahkan sistem imun tubuh. Sehingga, orang yang mengalami stres berat cenderung lebih mudah terserang penyakit seperti influenza, flu, batuk, serta mampu membuat lebih lama untuk sembuh dari sakit.

Hal tersebut juga sesuai dengan pernyataan bressert Menurut Bressert (2016), beberapa tanda bahwa stress telah berdampak pada fisik diantaranya adalah adanya gangguan tidur, peningkatan detak jantung, ketegangan otot, pusing dan demam, kelelahan, dan kekurangan energy dalam berktivitas sehari-hari yang tentu hal itu dapat terjadi karena kurangnya aktivitas yang dilakukan untuk menjaga kesehatan fisik pada siswa.

Salah satu tekanan fisik yang dirasakan oleh siswa dalam peroses pembelajaran daring yaitu , kesehatan mata yang merupakan hal penting bagi seorang manusia karena mata merupakan salah satu organ indera yang paling sering digunakan di antara kelima indera lainnya. Indera penglihatan merupakan sarana utama untuk mengumpulkan informasi dari sekitar kita.

Perlu diketahui, sekitar 75% informasi yang kita terima berupa informasi visual. US National Library of Medicine. Medline Plus (2017). Eye Care. Durasi waktu harian yang dihabiskan untuk menatap layar disebut screen time. Beberapa panduan merekomendasikan durasi screentime sebanyak kurang dari 2 jam/hari pada anak dan remaja. Rekomendasi yang ada, ternyata tidak sesuai dengan kebiasaan remaja.

Di China terdapat 36,8% anak sekolah usia 9 -17 tahun menggunakan media elektronik lebih dari 2 jam per hari, sedangkan di Vietnam sebanyak 56% -64% remaja usia 13-14 tahun menggunakan media elektronik lebih dari 2 jam/hari.

Sehingga pada kasus ini dampak positif yang terdapat pada pemberian tugas tidak sejalan dengan kesehatan mental siswa. Karena semakin lama durasi waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan suatu tugas dapat meningkatkan stres dan juga gangguan mood pada siswa (Kouzma dan Kenedy, 2002).

Hal tersebut terjadi karena jika siswa melakukan pekerjaan rumah atau mengikuti pelajaran melalui media online membuat siswa merasa tertekan dengan hal tersebut, dalam hal ini siswa perlu berinteraksi dengan sesama siswa dalam peroses belajar sebagai bentuk penyemangat dalam melakukan kegiatan belajar dan membuat siswa tidak bosan karena belajar sendiri dirumah, jika dibandingka dengan belajar secara langsung siswa dapat berinteraksi dengan temannya dan juga dapat beraktivitas disekolah sehingga membuat minat belajar siswa lebih tinggi dibandingkan dengan belajar sendiri.

Selain itu, penggunaan media sosial sebagai media pembelajaran justru menurunkan prestasi siswa, menurunkan jumlah informasi yang dapat diterima oleh siswa, serta membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugas yang diberikan (Flanigan, & Babchuk, 2015). Hal tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap pemberian materi yang diberikan oleh pengajar atau guru dalam peroses belajar daring, kurang efektifnya materi tersebut membuat siswa bingung dalam mengerjakan tugas yang diberikan dan juga siswa tidak mempunyai tempat atau informasi untuk bertanya tentang materi yang disampaikan oleh guru dengan lebih rinci atau lebih detail secara langsung. Dan oleh karena itu akibatnya waktu pegerjaan tugas menjadi lebih lama yang membuat siswa belum selesai mengerjakan tugas namun guru memberikan lagi tugas yang baru dalam mata pelajaran yang berbeda.

Adapun faktor yang mempengaruhi dinamika stress dari aspek psikologi yaitu: deadline tugas yang memiliki waktu singkat takut tidak dapat menyelesaikan semua tugas dan mendapat nilai buruk
kendala dalam sinyal dan kuota yang dapat hilang dan habis saat pembelajaran berlangsung
guru tidak menjelaskan materi dengan lebih rinci merasa pendengaran
merasa pendengaran dari rumah tidak kondusif dan kurang efektif

Merasa pusing dan stres juga dirasakan, hal tersebut sering terjadi dikarenakan subjek sendiri juga tidak dapat memahami materi yang diberikan dan guru yang tidak terlalu menjelaskan materinya sehingga membuat siswa harus mempelajarinya sendiri. Selain merasa pusing hampir semua subjek juga merasakan kelelahan pada diri mereka.

Kelelahan yang diakibatkan karena kurangnya pemahaman dalam mengerjakan tugas ini tentu sangat menjadi perhatian dari menteri pendidikan dan budaya(MENDIKBUD).
Pemberian solusi atau cara agar tidak stres saat belajar sangat dibutuhkan siswa.

Jika mereka tidak dapat menemukannya sendiri, Guru Pintar harus mampu memberikan tips belajar daring dan juga cara menghilangkan stres belajar. Untuk menemukan cara supaya tidak stress saat belajar harus dimulai dari empati. Mengapa? Cara mengatasi stres pada remaja tentu sangat berbeda dengan cara penanganan stress pada orang dewasa. Guru Pintar perlu memakai “kacamata” mereka untuk mendapatkan solusi masalah ini. Karena guru harus betul-betul paham bagaimana cara memeberikan metode belajar yang seru atau menyenangkan da membuat para murid tidak bosan dan mengantuk, dengan hal seperti itu juga akan membuat pikiran siswa tidak terbebabani dan tertekan dalam menerima materi yang diberikan.

Salah satu cara mengatasi stres belajar di rumah adalah dengan membuat jadwal belajar yang jelas agar dapat diingat. Belajar di rumah otomatis mengubah ritme belajar siswa. Jadwal yang jelas membuat pembiasaan harian menjadi lebih mudah dan teratur.

Dengan demikian siswa dan juga Guru Pintar tetap dapat membagi waktu untuk belajar dan beristirahat. Saat belajar offline, siswa dapat dengan mudah bertanya atau meminta penjelasan kepada Guru Pintar. Pembelajaran daring kadang membuat komunikasi antara siswa dan Guru Pintar terkendala karena berbagai hal, seperti: sinyal buruk, respon yang lama, dan lain sebagainya. Oleh karena itu penting bagi Guru Pintar untuk merancang pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sehingga siswa senang dan tidak mengalami kebingungan. Kegiatan pembelajaran yang menyenangkan juga menjadi jurus ampuh untuk meminimalisir stres belajar di rumah.

Merancang penugasan yang terpadu dan terencana. Untuk menyiasati hal ini, Guru Pintar harus merancang bentuk penugasan yang tidak membuat siswa merasa terbebani baik itu dari segi jumlah, bentuk tugas, maupun tingkat kesulitan tugas. Bentuk-bentuk penugasan harus direncanakan secara matang supaya tujuan pembelajaran tercapai, bukan memberikan tugas sebagai formalitas saja. Guru Pintar dapat memadukan beberapa pelajaran yang saling terkait ke dalam satu penugasan. Dengan cara mencari tema yang saling berhubungan antara dua mata pelajaran tersebut. Guru Pintar dapat membuat tugas dalam bentuk presentasi Bahasa Inggris tentang hewan yang dimaksud. Kemudian buat rubrik penilaian yang jelas apa-apa saja yang akan dinilai dari pelajaran sains dan juga pelajaran Bahasa Inggris. Jika hal ini dapat dilakukan, maka siswa tidak akan pusing dibanjiri oleh deretan tugas-tugas saat belajar di rumah.

Motivasi penting dalam menentukan seberapa banyak siswa akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran atau seberapa banyak menyerap informasi yang disajikan kepada mereka. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa seseorang akan berhasil dalam belajar, apabila di dalam dirinya terdapat dorongan atau keinginan untuk belajar. Sebab, tanpa adanya motivasi dalam diri seseorang kegiatan belajar mengajar akan sulit untuk berhasil. Sehingga dapat menjadi suatu masalah dalam proses pembelajaran siswa. Mc Donald dalam Hamalik (2011:106) merumuskan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Lingkungan keluarga sangat berpengaruh dalam keberhasilan belajar siswa.
Pengaruh yang pertama kali didapatkan bagi kehidupan dan perkembangan seseorang adalah keluarga. Adanya dukungan dari lingkungan yang baik, maka akan menumbuhkan motivasi pada anak untuk meningkatkan kegiatan belajarnya, karena sebagian besar siswa menghabiskan waktu mereka bersama keluarga. Lingkungan keluarga yang baik, serta perhatian orang tua yang terus mengalir akan berdampak baik pula pada proses belajar dan akademik anak. Seperti studi yang dilakukan oleh Whitaker (2012) menunjukkan bahwa lingkungan dan karakteristik keluarga adalah faktor penting dalam menentukan motivasi anak untuk belajar. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Garliah dan Nasution (2005) menunjukkan adanya hubungan positif antara lingkungan keluarga terhadap motivasi belajar.

Faktor lain yang diduga mempengaruhi motivasi belajar siswa adalah internet. Internet tentunya bukan suatu hal yang asing lagi di dunia yang serba modern seperti sekarang ini. Seiring dengan meningkatnya peranan informasi dalam berbagai aktivitas kehidupan maupun teknologi, akses terhadap sumber dan jaringan informasi menjadi semakin penting bagi siapapun Adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi khususnya internet dikalangan siswa, sangat menunjang dalam hal proses belajarnya. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Papanis (2014) yang menyatakan bahwa lebih dari 50% siswa menyatakan bahwa internet memiliki peran pembelajaran khusus diantaranya dapat meningkatkan motivasi mereka untuk belajar.

Pada pembelajaran online, peserta didik dapat menjadi kurang aktif dalam menyampaikan aspirasi dan pemikirannya, sehingga dapat mengakibatkan pembelajaran yang menjenuhkan. Seorang siswa yang mengalami kejenuhan dalam belajar akan memperoleh ketidakmajuan dalam hasil belajar. Oleh karena itu, diperlukan pendorong untuk menggerakkan menggerakan siswa agar semangat belajar sehingga dapat memiliki prestasi belajar.

Semangat belajar dapat dimiliki dengan meningkatkan motivasi belajar. Motivasi belajar adalah sebuah penggerak atau pendorong yang membuat seseorang akan tertarik kepada belajar sehingga akan belajar secara terus-menerus. Motivasi yang rendah dapat menybabkan rendahnya keberhasilan dalam belajar sehingga akan merendahkan prestasi belajar siswa. Indikator Tingkat Motivasi Belajar pada Siswa.

Dalam mengetahui tingkat motivasi belajar pada siswa terdapat beberapa indikator motivasi belajar siswa meliputi: Ketekunan dalam belajar, Minat dan ketajaman perhatian dalam belajar, Ulet dalam menghadapi kesulitan, Mandiri dalam belajar,Keinginan berhasil dalam belajar dan Komponen Motivasi Belajar
Ada tiga komponen pada motivasi belajar, yaitu:

a) Komponen Harapan dengan keyakinan diri siswa mengenai kemampuan siswa dalam memahami materi belajar dan dalam mengerjakan tugas.

b) Komponen Nilai Komponen nilai mencakup tujuan belajar siswa dan kepercayaan tentang arti belajar dan arti mengerjakan tugas.

c) Komponen Afektif Komponen afektif berhubungan terhadap reaksi emosional siswa ketika siswa menghadapi tugas dan pembelajaran.

Memanfaatkan Penggunaan Media Motivasi belajar siswa pada pembelajaran online dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan penggunaan media yang menarik, sehingga akan membuat siswa tertarik kepada pembelajaran.

Dalam hal ini, guru bisa membuat atau menggunakan media animasi untuk mendukung pembelajaran online. Contohnya, guru bisa membuat atau menggunakan media animasi untuk mendukung proses pembelajaran, yaitu dalam proses penyampaian materi pelajaran yang bersifat abstrak, sehingga dapat lebih mudah dimengerti dan lebih menarik. Media animasi yang digunakan dapat menggunakan powerpoint yang menarik, membuat bagan yang menarik, membuat poster, atau membuat animasi video. Melakukan Evaluasi Pembelajaran Evaluasi pada pembelajaran online penting untuk dilakukan.

Hal ini dikarenakan dengan melakukan evaluasi pada kembelajaran online maka dapat diketahui apakah pembelajaran dapat berjalan efektif atau tidak. Jika dirasa tidak efektif maka dapat melakukan modifikasi pada system pembelajaran yang sesuai dengan siswa.

Oleh. Rian Hidayat, Mahasiswa Semester 5, Perogram Studi Sosiologi, Uniersitas Mataram

Tags
guest

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Baca Juga :

Close
Close