Difabel Bukan Alasan Untuk Menjadi Tak Mampu Dimasa Pandemi

AmpenanNews. Difabel bukan menjadi alasan untuk tak mampu meskipun pandemi Covid-19 menjadi momok bagi semua kalangan di negeri manapun. semua lini ekonomi ambruk karena wabah yang sudah menerpa Indonesia hampir 2 tahun ini.

Perkembangan ekonomi masyarakat pada umumnya mengalami penurunan yang sangat drastis. Lalu bagaimana dengan usaha yang di jalani oleh orang orang yang berkebutuhan khusus atau Difabel ?

Ditak bisa di pungkiri pemerintah sudah banyak melakukan penanganan terkait musibah corona ini. Berbagai program di turunkan untuk membantu masyarakat pada umumnya. Baik itu berupa bantuan pangan sampai bantuan modal ke masing masing warga.

Terkait dengan bantuan modal ini, tak semua orang bisa menikmatinya walau memenuhi kreteria. Terlebih lagi difabel yang sangat berkemungkinan tak terdata karena beberapa hal yang salah satunya terkait dengan data kependudukan.

Bagaimanapun juga data kependudukan berupa KK dan KTP adalah data masyarakat yang paling mendasar untuk mendapatkan bantuan tersebut. Biasanya ini terjadi pada difabel miskin yang terkadang enggan untuk mengurus data diri mereka.

Pasangan suami istri yang keduanya adalah difabel, yaitu Saparwadi dan Mariana tak mau ambil pusing dengan masalah tersebut.

Kedua pasangan yang menikah tahun 2017 dan sudah di karuniai seorang putra ini tetap tekun menjalani usahanya untuk mencari rejeki.

Usaha konveksi pasangan suami istri ini sudah mereka rintis sejak mereka belum menikah tetap berjalan apa adanya walau wabah corona sampai sekarang masih menjadi isu yang membuat perkembangan ekonomi masyarakat masih terseok seok.

“ kami tak pernah terlalu memikirkan wabah itu walau usaha kami sangat berimbas sekali. Walau sempat ada orderan masker, itu hanya sebentar karena setelah itu semuanya hilang lagi. “ kata Saparwadi menuturkan saat di kunjungi oleh Ampenen News di rumahnya yang sekaligus sebagai tempat usahanya ini.

“ sebenarnya kalua teman teman mau mandiri, sejak dulu seharusnya serius dengan pekerjaanya masing masing. Namun bagaimana nggak kelimpungan saat ada wabah seperti ini. Pekerjaan saja masih belum tentu mereka bergerak di bidang apa. Mereka nggak mau focus mengembangkan diri padahal sudah banyak di bantu oleh pemerintah “ sambungnya.

Saparwadi juga menduga bahwa masih banyak teman teman Difabel hanya ikut ikutan di setiap pelatihan karena hanya ingin mengejar uang transport atau uang saku dan bantuan yang biasanya ada setelah mengikuti pelatihan tersebut.

Tetapi yang menjadi masalah adalah bantuan yang di berikan berupa perlatan kerja kuat dugaannya biasanya mereka jual lagi. Ini karena memang mereka mengikuti pelatihan yang bukan bidang mereka. Sudah tau mereka hobi dan bakat mereka kerja di bengkel tapi saat ada pelatihan menjahit mereka ikut juga.

Bahkan menurut pandangan Kedua suami istri ini, instansi yang memberikan pelatihan juga asal merekrut peserta tanpa melakukan asassment yang penting kegiatan berjalan. “ Hanya itu saja “ kata mereka meyakinkan.

Harapan Saparwadi kedepannya jika ada bantuan ke para difabel, pihak pemberi bantuan juga harus memberikan ultimatum supaya peralatan itu tak di jual dan mereka berharap ada pendampingan dan pengawasan supaya apa yang di lakukan oleh pemerintah tidak sekedar ceremonial untuk melaksanakan tugas dan kewajiban mereka sebagai abdi negara.

Namun mereka di harapkan lebih peka lagi terhadap fenomena di mana para difabel ini terus mengeluh minta di perhatikan dan di bantu sementara pemerintah sudah terlalu banyak membantu mereka, tutup saparwadi di rumahnya yang berlokasi di jalan antara sikur dan sakra tepatnya di perbatasan Semaya. ( ws ).

Tags
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Baca Juga :

Close
Close