Anews. 07 Mei 2026 – Langkah strategis untuk meningkatkan mutu dan daya saing produk olahan kedelai di Nusa Tenggara Barat, khususnya bagi pelaku usaha tempe dan tahu, terus dilakukan. Sebuah delegasi yang terdiri dari Ketua Umum Asosiasi Importir Kedelai Indonesia, pengurus KOPTI, dan para pengrajin se-NTB melaksanakan kunjungan studi banding resmi ke PT FKS Multi Agro Tbk, perusahaan agrikultur terkemuka di Surabaya, Jawa Timur. Fokus utama kegiatan ini adalah meneliti secara mendalam sistem pengemasan dan penanganan kedelai impor bermerek Bola, yang dikenal memiliki standar kualitas dan keawetan tinggi hingga ke tangan konsumen .
Kunjungan ini dikordinir langsung oleh Ketua Umum Asosiasi Importir Kedelai Nasional, Dr. Ir. Mahmud Razak M.M. Turut serta mendampingi rombongan adalah Ketua Koperasi Pengrajin Tempe Indonesia (KOPTI) Kabupaten Lombok Utara, Tawadi, S.A.P, bersama puluhan pengrajin dan pelaku usaha olahan kedelai yang berasal dari berbagai wilayah di NTB. Kedatangan mereka disambut hangat oleh jajaran manajemen FKS Multi Agro, yang merupakan unit usaha unggulan dari FKS Group, di mana induknya PT FKS Corporindo Indonesia memegang kendali saham sebesar 79,06%. Perusahaan ini dikendalikan oleh Keluarga Kusuma—Edy Kusuma dan Agung C. Kusumo—dengan Chandy Kusuma menjabat sebagai Executive Chairman & CEO FKS Food & Agri, yang telah lama menjadi pemimpin pasar dalam penyediaan komoditas pangan strategis nasional .
Dalam sesi pemaparan dan peninjauan langsung, delegasi diperkenalkan pada sistem manajemen rantai pasok terpadu yang diterapkan FKS Group, mulai dari penerimaan barang, penyimpanan, hingga proses pengemasan akhir. Secara khusus, perhatian tertuju pada cara penanganan dan pengemasan kedelai merek Bola, produk andalan yang menjadi acuan kualitas di pasar nasional. Para peserta melihat bagaimana teknologi dan standar higienitas ketat diterapkan agar kedelai tetap bersih, kering, terhindar dari kerusakan fisik maupun serangan hama, serta terjaga kadar airnya agar mutu biji tetap prima dan siap diolah menjadi bahan baku terbaik untuk tempe maupun tahu .
Dr. Ir. Mahmud Razak M.M dalam keterangannya menyampaikan, studi banding ini sangat krusial mengingat kedelai merupakan komoditas utama yang menopang mata pencaharian ribuan keluarga di NTB. “Kami membawa rombongan ini untuk belajar langsung dari yang terbaik. Merek Bola sudah terbukti dipercaya masyarakat karena konsistensi kualitasnya, salah satunya didukung sistem pengemasan yang cerdas dan efisien. Tujuan kami adalah meniru dan menerapkan prinsip-prinsip ini, baik dalam penanganan bahan baku maupun pengemasan produk akhir para pengrajin kita, agar hasil olahan tempe dan tahu NTB semakin berkualitas, tahan lama, dan memiliki nilai jual lebih tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KOPTI Lombok Utara, Tawadi, S.A.P, mengapresiasi kesempatan berharga ini. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar di daerah sering kali terletak pada penanganan pasca pengolahan dan kemasan yang belum standar, sehingga mengurangi daya saing. “Kami melihat sendiri bagaimana FKS Multi Agro menjamin kualitas lewat kemasan yang kuat, rapi, dan informatif. Ini pelajaran berharga bagi kami. Nanti di Lombok Utara, kami akan bawa ilmu ini, berbenah cara kerja, dan menyamakan standar. Harapannya, produk olahan kedelai kita tidak hanya laku di pasar lokal, tapi bisa bersaing hingga ke luar daerah dengan kualitas yang setara produk unggulan,” ungkapnya penuh semangat.
Pihak manajemen FKS Multi Agro menyambut baik kunjungan ini sebagai wujud nyata dukungan industri besar terhadap penguatan ekonomi masyarakat dan ketahanan pangan. Dalam penjelasannya, disampaikan bahwa keberhasilan merek Bola tak lepas dari komitmen menjaga standar sejak awal, didukung infrastruktur gudang yang memadai dan tenaga ahli yang kompeten. “Kami senang bisa berbagi pengetahuan. Kemasan bukan sekadar pembungkus, tapi bagian dari jaminan mutu dan identitas produk. Semoga apa yang dipelajari hari ini bisa diterapkan dan membawa manfaat besar bagi kemajuan usaha tempe dan tahu di Nusa Tenggara Barat,” ujar salah satu perwakilan manajemen.
Kegiatan ditutup dengan diskusi teknis dan pertukaran pengalaman. Para pengrajin menyatakan puas dan bertekad menerapkan standar baru yang didapat. Studi banding ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pelaku usaha, asosiasi, dan industri strategis adalah kunci untuk mengangkat harkat dan martabat usaha kecil menengah, menuju produk yang berkualitas, berstandar tinggi, dan berdaya saing luas.
