Anews. Langkah nyata pelestarian warisan budaya dan kearifan lokal Nusa Tenggara Barat kian terwujud. Ahad, 10 Mei 2026 Wakil Rektor lll Universitas Bumi Gora Dr. Baiq Candra Herawati, S.T., M.M. melakukan kunjungan kerja strategis ke Sekolah Adat Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, guna membantu menghidupkan kembali lembaga pendidikan adat yang memiliki nilai sejarah dan sosial tinggi bagi masyarakat setempat.
Rombongan Rektor didampingi langsung oleh dosen Universitas Bumigora, Erwin Suhendra, M.Pd., serta pengurus Koperasi Produksi Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Kabupaten Lombok Utara, yakni Ketua Tawadi, S.A.P. dan Wakil Ketua Rukyal Muhtadin, S.Pd.. Kehadiran tim ini menjadi bentuk sinergi lintas sektor antara dunia pendidikan, organisasi ekonomi rakyat, dan pemangku kepentingan budaya, dengan satu tujuan utama: menyelamatkan, mengaktifkan kembali, dan memastikan keberlanjutan Sekolah Adat Bayan sebagai pusat pewarisan nilai luhur Sasak.
Dalam pertemuan dengan tokoh adat dan pengelola sekolah, Dr. Baiq Candra Herawati menegaskan komitmen penuh perguruan tingginya. “Kami datang bukan sekadar berkunjung, melainkan bermitra. Universitas Bumigora memiliki tanggung jawab besar untuk berkontribusi nyata, baik dalam pengurusan dokumen resmi, penyempurnaan administrasi kelembagaan, hingga pendampingan pengembangan kurikulum adat yang relevan namun tetap menjaga kemurnian warisan leluhur,” ujarnya.
Lebih jauh, beliau berharap kolaborasi ini menjadi pintu pembuka bagi banyak pihak lain untuk turut ambil bagian. “Harapan kami besar sekali, agar semakin banyak lembaga, tokoh, dan masyarakat yang sadar bahwa adat dan budaya adalah identitas kita. Mari sama-sama menjaga dan melestarikannya, khususnya di Bayan yang dikenal memiliki kekayaan tradisi yang sangat kuat dan khas,” tambah Dr. Baiq Candra.
Sementara itu, Ketua KOPTI Lombok Utara, Tawadi, S.A.P., menyampaikan bahwa kehadiran pihaknya adalah wujud kepedulian organisasi ekonomi masyarakat terhadap kesejahteraan budaya. “Kemajuan ekonomi dan kekuatan budaya harus berjalan beriringan. Sekolah Adat ini adalah aset berharga, kami siap membantu memfasilitasi kebutuhan administrasi dan menghubungkan potensi masyarakat dengan dukungan yang diperlukan,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Rukyal Muhtadin, S.Pd., yang juga berperan aktif menjembatani aspek pendidikan formal dan pendidikan adat. “Sekolah Adat Bayan memegang peran vital dalam menanamkan karakter, etika, dan kearifan lokal kepada generasi muda. Tanpa keberadaan lembaga ini, banyak nilai berharga yang berpotensi hilang tergerus zaman. Oleh sebab itu, pengurusan dokumen dan legalitas menjadi langkah awal yang sangat mendasar agar lembaga ini diakui dan mendapatkan perlindungan penuh,” jelasnya.
Dosen Universitas Bumigora, Erwin Suhendra, M.Pd., menambahkan bahwa tim akademik siap mendampingi secara teknis. “Kami akan bantu menyusun sistem administrasi yang rapi, mendokumentasikan kekayaan budaya yang ada, serta merancang program pelatihan agar Sekolah Adat Bayan dapat berjalan mandiri, berkembang, dan menjadi rujukan pelestarian budaya di wilayah Lombok Utara,” katanya.
Sekolah Adat Bayan merupakan salah satu dari empat sekolah adat yang ada di Lombok Utara, yang berfungsi sebagai wadah pewarisan pengetahuan tradisional, norma kehidupan, seni, dan tata kelola lingkungan hidup masyarakat Sasak. Seiring berjalannya waktu, keberadaannya sempat terabaikan dan menghadapi kendala administrasi maupun operasional. Melalui kunjungan dan kesepakatan kerja sama ini, diharapkan kendala tersebut segera teratasi, sehingga Sekolah Adat Bayan kembali berfungsi optimal sebagai benteng pelestarian budaya NTB.
Langkah ini mendapat sambutan sangat positif dari tokoh adat setempat. Mereka menyambut baik perhatian dan dukungan nyata yang diberikan, serta berharap kerja sama ini berkelanjutan dan menjadi contoh bagi daerah lain dalam menjaga warisan budaya bangsa.
Kegiatan ini menegaskan bahwa pelestarian adat dan budaya bukan hanya tanggung jawab satu pihak saja, melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat, demi memastikan identitas dan kearifan lokal tetap hidup, lestari, dan diwariskan ke generasi mendatang.

Anews.