In Memorial H. LALU NASIP (NASIB) AR: ORANG SASAK TERBAIK Oleh: Dr. Salman Faris
Terjemahan

Mengenang orang besar bukanlah perkara mudah. Dalam setiap langkah kata yang dituliskan, selalu ada rasa bahwa kalimat tidak pernah mampu menandingi jejak yang ditinggalkan oleh hidup mereka. Demikian pula ketika nama Lalu Nasip disebut (Penulisan nama beliau kadang Lalu Nasib dan Lalu Nasip. Yang satu merujuk pada ejaan, dan satunya lagi merujuk peda pelisanan Sasak). Beliau bukan sekadar seniman, melainkan seorang penggerak peradaban yang lewat daya cipta dan ilham meninggalkan jejak abadi dalam kebudayaan Sasak. Di hadapan sosok semacam ini, segala penghormatan tidaklah cukup hanya berupa ucapan belasungkawa. Perlu ada permenungan mendalam yang menegaskan kembali kedudukan peninggalan besar. Bukan semata-mata untuk mengenang, melainkan untuk memastikan bahwa warisan itu tidak lenyap ditelan arus zaman. Sebab, yang kita tumpukan bukan sekadar riwayat hidup, tetapi fondasi peradaban penciptaan yang memberi arah bagi generasi Sasak masa kini dan masa depan.

Lalu Nasip adalah manusia Sasak yang memikirkan banyak hal tentang bangsanya. Pada diri beliau dapat dijumpai setiap babak fenomena Sasak. Sebuah refleksi yang bahkan seorang intelektual paling mumpuni sekalipun kerap tidak mampu menjangkaunya. Beliau tidak sekadar menciptakan karya seni, melainkan memadatkan pengalaman kolektif Sasak ke dalam bentuk-bentuk artistik yang abadi. Karena itu saya sering mengatakan, jika ingin melihat Sasak dalam fase-fase penting sejarah modern mereka, maka lihatlah karya-karya Lalu Nasip. Di sana semua tergambar. Tidak ada yang tertinggal. Ia mampu menghadirkan denyut sosial, pergulatan budaya, nadi ekonomi, kompleksitas keagamaan hingga dinamika identitas dalam sebuah ruang kreatif yang kaya makna. Sangat jarang (terbatas) orang Sasak yang bisa menjadikan diri sebagai semacam folder besar bagi bangsanya sendiri. Sebuah arsip hidup yang menyimpan, mengolah, dan menyalurkan ingatan kolektif melalui jalur seni. Dalam diri Lalu Nasip, kesenian tidak lagi berdiri sebagai hiburan atau ekspresi individual semata, melainkan sebagai dokumen kultural yang menyimpan perjalanan Sasak dalam bentuk paling otentik.

Ketika ditanya, apa karya besar Lalu Nasip, saya tidak pernah ragu menyebut tiga hal. 1) dramaturgi Sasak yang termanifestasi dalam drama Penginang Robek. 2), musikologi Sasak yang dituangkan dalam Cibane, dan 3) reinvensi Sasak yang diwujudkan dalam Wayang Sasak. Tiga karya ini bukan sekadar produk artistik, melainkan batu penanda yang menegaskan eksistensi kebudayaan Sasak dalam jalur asli yang mandiri. Sekaligus menjadi rujukan epistemologis untuk memahami seni Sasak, budaya Sasak, agama Sasak, politik Sasak secara benar. Ketiga karya tersebut, dengan kadar orisinalitas yang kuat, memperlihatkan bahwa ada seni Sasak yang murni berakar pada kearifan lokal. Sementara pengaruh luar hanya hadir sebagai tempelan kecil yang tidak mengubah esensi dasarnya. Itulah yang saya sebut sebagai keaslian, sebuah kondisi ketika karya seni mampu mencerminkan kosmos masyarakat yang melahirkannya tanpa harus bergantung pada hegemoni luar.

Baca Juga :  Gubernur Zul bersemangat sapa warga Moyo Utara dan Moyo Hilir

Drama Penginang Robek menunjukkan bagaimana dramaturgi Sasak menemukan bentuknya sendiri. Dalam karya itu, Lalu Nasip menghadirkan dunia yang sepenuhnya bersumber dari pengalaman dan imajinasi Sasak. Meskipun bagi pengamat dari luar bisa jadi tampak ada sekilas jejak neoklasik Prancis atau bayangan opera Cina. Namun kenyataannya, Lalu Nasip tidak pernah berhubungan langsung dengan tradisi-tradisi besar tersebut. Justru di situlah kejeniusan beliau tampak karena mampu mengekspresikan sesuatu yang universal dengan bahasa kesenian yang lahir dari tanah Sasak. Drama itu tidak terjebak dalam imitasi, melainkan mencipta bentuk baru yang berakar dari kosmos budaya sendiri. Dalam setiap babak, dialog, dan gestur, dapat dirasakan bahwa ini adalah suara Sasak yang otentik. Bukan bayangan budaya lain yang disalin mentah-mentah. Melalui Penginang Robek, dramaturgi Sasak menemukan artikulasinya sendiri dalam sejarah kesenian Nusantara, bahkan dunia.

Dengan kata lain, jika ingin mengilmukan drama Sasak, maka sumber utama adalah Penginang Robek dan drama Amaq Abir. Berdasarkan Penginang Robek, dapat disusun struktur drama yang bisa disebut sebagai dramaturgi Sasak yang mencirikan kelainan dalam banyak elemen dengan dramturgi Nusantara, Asia, termasuk Barat. Kelainan itu tak berarti tidak ada pengaruh dari benua lain, namun ia lebih kepada penekanan bahwa dalam Penginang Robek dapat dijumpai gagasan kreatif dan penciptaan yang disusun dari jelajah kesasakan yang luas, yang selama ini bisa dijangkau oleh Lalu Nasip.

Jika dramaturgi Sasak menemukan tonggaknya dalam Penginang Robek, maka musikologi Sasak mendapatkan pondasinya dalam Cibane. Saya selalu menegaskan, jika hendak menelusuri musikologi Sasak, mulailah dari Cibane karya Lalu Nasip. Jika berangkat dari karya musik lain, saya menduga besar potensi kekeliruan dalam membangun epistemologi tentang musik Sasak. Cibane adalah jalan tengah yang unik, sebuah karya yang mampu mengolah pengaruh besar Barat dan Timur tanpa kehilangan akar keaslian Sasak. Barat di sini bukan Eropa dan Amerika, melainkan Islam yang memberi nuansa religius dan spiritual dalam tradisi musik, sementara Timur yang dimaksud adalah budaya Bugis-Sulawesi yang turut hadir dalam sejarah interaksi masyarakat Sasak. Lalu Nasip, dengan kepekaan artistiknya, tidak menempatkan pengaruh-pengaruh itu sebagai beban, tetapi sebagai bahan olahan yang ditransformasikan. Hasilnya adalah musik yang sepenuhnya terasa sebagai karya Sasak, namun sekaligus memuat kompleksitas interaksi budaya. Dalam Cibane, terdengar getaran orisinalitas yang begitu kental, menjadikannya sahih disebut sebagai musik asli Sasak dibandingkan dengan yang lain. Bukan hanya sekadar komposisi musikal, tetapi juga sebuah epistemologi musikal, titik mula yang menentukan arah perkembangan studi musik Sasak di masa depan.

Baca Juga :  Malam Apresiasi Hari Pers Nasional di Lombok Timur

Karya besar ketiga, Wayang Sasak, memperlihatkan dengan sangat jelas betapa Lalu Nasip adalah seorang pencipta yang tidak sekadar melestarikan, tetapi juga mereinvensi. Jika dibandingkan dengan semua jenis wayang di Indonesia, perbedaan Wayang Sasak karya Lalu Nasip tampak sangat mencolok. Hampir dapat dikatakan tidak ada kemiripan yang berarti dengan wayang-wayang dari Jawa maupun Bali. Justru yang paling dekat adalah dengan Wayang Kelantan di Malaysia. Namun sekali lagi, penting ditekankan bahwa Lalu Nasip tidak pernah berhubungan dengan tradisi Wayang Kelantan. Ia menciptakan Wayang Sasak dari ruang imajinasi dan kosmos budaya Sasak sendiri. Bahwa kemudian ada persamaan yang tampak, itu justru menegaskan bahwa kesenian Nusantara memiliki resonansi yang melampaui batas politik-geografis, dan Lalu Nasip berhasil mengolahnya tanpa harus menyalin. Wayang Sasak miliknya adalah bentuk penciptaan murni. Berbeda dari semua wayang yang ada. Karena itu, wayang Sasak memperlihatkan bahwa Sasak memiliki jalannya sendiri dalam dunia pewayangan. Reinvensi yang dilakukan Lalu Nasip ini bukan hanya membanggakan secara estetis, tetapi juga strategis secara kultural. Sebab ia meneguhkan posisi Sasak sebagai pemilik tradisi yang unik dan tidak bisa disubordinasikan di bawah hegemoni kesenian lain. Termasuk Bali yang selama ini selalu diasosiasikan sebagai representasi kesenian Lombok.

Melaui Wayang Sasak dapat dibangun satu kerangka teoretik tentang reinvensi ala Sasak. Tentu saja Lalu Nasip telah meninggalkan formulasi tersebut yang bisa dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan yang dapat dirujuk sebagai teori penciptaan baru. Baik dari segi konsep mau metode penciptaan karya seni atau karya kebudayaan lain di tengah orang Sasak.

Ketiga karya besar tersebut meneguhkan satu hal yang selama ini sumir di tengah perdebatan kaum terpelajar bahwa ada kesenian Sasak yang asli. Keaslian di sini bukan berarti terisolasi dari dunia luar. Melainkan sesuatu yang berakar kuat dalam kearifan Sasak dengan hanya sedikit sekali pengaruh luar yang masuk. Inilah warisan Lalu Nasip yang paling berharga. Beliau memperlihatkan kepada kita bagaimana suatu kesenian dapat dicipta dengan berpijak pada tradisi sendiri, namun tetap mampu berbicara dalam bahasa universal seni. Tidak banyak seniman yang mampu mencapai titik itu, sebab kebanyakan terjebak antara dua ekstrem yaitu 1) terkungkung dalam tradisi yang beku atau 2) hanyut dalam imitasi kebudayaan asing. Lalu Nasip berhasil mengambil jalan tengah yakni sebuah penciptaan yang orisinal, berakar pada kosmos Sasak, sekaligus terbuka untuk dibaca dalam horizon global.

Kedudukan Lalu Nasip dalam peradaban Sasak dapat disejajarkan dengan para Tuan Guru. Jika Tuan Guru meninggalkan pesantren sebagai basis peradaban Sasak, maka Lalu Nasip meninggalkan daya cipta dan ilham khas Sasak sebagai landasan lain bagi peradaban tersebut. Tuan Guru dan Lalu Nasip berada pada jalur yang berbeda dalam membentuk struktur kultural masyarakat Sasak. Pesantren sebagai fondasi religius dan moral. Kesenian Lalu Nasip sebagai fondasi kreatif dan imajinatif. Warisan Lalu Nasip tidak hanya berhenti pada karya seni, melainkan akan menjadi ladang ilmu pengetahuan untuk pengembangan dan pengilmuan kebudayaan Sasak di masa depan. Dengan demikian, karya-karya beliau juga dapat dilihat sebagai ladang ibadah. Sebab melalui seni beliau membangun jalan yang meneguhkan identitas, memuliakan budaya, memanusiakan manusia, mensasakkan manusia Sasak, memerdekakan keterjajahan, merayakan kemerdekaan, dan memberi arah bagi generasi mendatang. Dalam perspektif ini, penciptaan seni bukan hanya soal estetika, melainkan juga soal peradaban dan spiritualitas. Soal membangun bangsa. Soal bertahan hidup dalam glortitas sekaligus kehormatan Sasak.

Baca Juga :  Kabupaten Lombok Timur Raih WTP Ke Empat Kalinya

Atas dasar itu, tidak berlebihan jika saya menyebut bahwa dalam dunia pencipta seni dan pembangunan kebudayaan Sasak, hanya ada tiga manusia Sasak paling hebat yang pernah ada yakni 1) Jero Mihram, 2) Al-Mahsyar, dan 3) Lalu Nasip. Ketiganya merupakan kanon besar yang tidak akan pernah tergantikan. Mereka bukan sekadar nama, tetapi tonggak yang mendefinisikan apa itu kesenian dan kebudayaan Sasak. Jero Mihram dengan sumbangan visionernya melalui Tutur Monyeh kemudian menjadi Cepung atau Cakepung. Al-Mahsyar dengan daya cipta monumental yang menghasilkan apa yang disebut Dangdut Sasak (melodi Sasak). Lalu Nasip dengan reinvensi orisinalitas yang menegaskan identitas Sasak. Jika hari ini kita bisa berbicara tentang Sasak dalam horizon seni yang sejajar dengan kebudayaan besar lain, itu karena ada jejak yang ditinggalkan oleh tiga tokoh tersebut. Mereka adalah saksi bahwa kebudayaan Sasak tidak pernah mati, melainkan terus hidup melalui karya-karya agung yang melampaui zaman.

Selamat jalan, guru. Saya mungkin susah untuk menjadi sehebat atau sebesar guru, tetapi setidaknya saya bisa menjadi murid yang meneruskan legasi besar guru untuk bangsa Sasak di era yang penuh cobaan ini. Dalam setiap detik perjalanan waktu, nama guru akan tetap dikenang sebagai simbol keaslian. Sebagai tanda bahwa Sasak memiliki kekuatan untuk berdiri di atas kakinya sendiri dalam jagat kesenian. Warisa guru tidak hanya akan hidup di pentas dan nada, tetapi juga dalam pikiran, penelitian, dan karya generasi yang datang kemudian. Dan selama itu pula, guru akan tetap hadir. Bukan hanya sebagai kenangan, melainkan sebagai bagian dari denyut nadi kebudayaan dan kebangsaan Sasak yang tak akan pernah padam.

Malaysia: Habis solat Jumat, 29 Agustus 2025.

 

Subscribe
Notify of
guest

0 Komentar
terbaru
terlama terbanyak disukai
Inline Feedbacks
View all comments