Anews. Informasi mengenai penyakit unggas yang beredar di masyarakat mulai menjadi perhatian di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) setempat mengaku belum menerima laporan resmi terkait kasus tersebut.
Meski demikian, dinas tidak ingin mengabaikan informasi yang berkembang. Penelusuran akan dilakukan melalui Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang tersebar di sejumlah wilayah untuk memastikan kondisi kesehatan unggas di lapangan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnakkeswan Lombok Timur, drh. Hultatang, mengatakan penyakit pada unggas memiliki beragam jenis dengan gejala yang relatif mirip. Risiko penularannya juga cukup tinggi, terutama pada ayam kampung yang masih dipelihara secara bebas tanpa sistem perkandangan dan pengawasan kesehatan yang memadai.
Menurut Hultatang, perubahan cuaca dari musim kemarau menuju musim hujan turut menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Perubahan suhu dan kelembapan dapat memicu stres pada unggas sehingga memengaruhi daya tahan tubuhnya.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan ternak terhadap serangan penyakit, terlebih jika tidak diimbangi dengan vaksinasi secara rutin dan berkala.
Ia menyebutkan, dua penyakit unggas yang perlu mendapat perhatian serius adalah Avian Influenza (AI) atau flu burung dan Newcastle Disease (ND). Kedua penyakit akibat virus tersebut dapat menyebabkan kematian unggas dalam jumlah besar.
”AI atau flu burung memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, bahkan bisa mendekati 100 persen pada wabah tertentu. Sementara Newcastle Disease juga dapat menyebabkan kematian, meskipun tingkatnya umumnya lebih rendah dibandingkan AI,” ujar Hultatang.
Kedua penyakit tersebut, kata dia, memiliki sejumlah gejala yang hampir serupa, terutama gangguan pada sistem pernapasan. Namun, flu burung dapat ditandai dengan perubahan warna jengger menjadi kebiruan. Adapun Newcastle Disease dapat disertai gangguan pencernaan, seperti kotoran berwarna kuning hingga keputihan.
Untuk menekan risiko penyebaran, Hultatang menegaskan vaksinasi menjadi salah satu langkah pencegahan yang harus diperhatikan peternak. Selain itu, perbaikan manajemen pemeliharaan dan penerapan biosekuriti juga diperlukan.
Risiko penularan, lanjut dia, juga perlu diwaspadai pada pemeliharaan ayam Bangkok, khususnya ayam aduan yang kerap berpindah dari satu kandang ke kandang lainnya. Mobilitas unggas tanpa pemeriksaan kesehatan berpotensi menjadi salah satu jalur penyebaran penyakit.
Peternak pun diminta tidak sembarangan memasukkan ayam baru ke dalam kandang, terutama ketika unggas yang sudah dipelihara sedang menjalani pengobatan atau masa pemulihan.
Persoalan lain ditemukan pada pola pemeliharaan ayam kampung yang masih banyak dilakukan dengan sistem diumbar. Unggas dibiarkan berkeliaran bebas, bahkan terkadang tidur di pepohonan. Pola tersebut membuat pengawasan terhadap kesehatan, pakan, dan kontak dengan unggas lain menjadi lebih sulit.
”Kalau satu ayam terjangkit penyakit, penularannya bisa meluas karena ayam kampung bergerak bebas ke mana-mana, bahkan bisa berpindah ke lingkungan atau kelompok pemeliharaan lainnya,” katanya.
Karena itu, Hultatang mengimbau masyarakat agar mulai menerapkan sistem perkandangan yang lebih teratur dalam memelihara ayam kampung. Pengawasan kesehatan, vaksinasi berkala, serta penerapan biosekuriti dinilai penting untuk mengurangi risiko penularan.
Di tengah informasi yang berkembang mengenai penyakit unggas tersebut, Disnakkeswan Lombok Timur masih perlu memastikan kondisi sebenarnya di lapangan melalui penelusuran petugas Puskeswan. Hingga kini, belum ada laporan resmi yang diterima dinas mengenai kasus tersebut.
Catatan: Saya sengaja mempertahankan penegasan bahwa belum ada laporan resmi. Ini penting agar berita tidak membangun kesan seolah-olah wabah sudah terkonfirmasi. Judul juga dibuat informatif tanpa menimbulkan kepanikan masyarakat.
