HKTI NTB Tepis Asumsi Negatif, Yakinkan Masyarakat Program 10 Juta Sapi Itu Nyata


AmpenanNews. Dalam rangka menjawab kesimpangsiuran yang terjadi terkait dengan program 10 juta sapi di NTB. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB memberikan penjelasan secara rinci guna menghindari persepsi dan asumsi negatif di masyarakat atas program tersebut.

Disebutkan oleh Sekretaris DPP HKTI NTB Iwan Setiawan, Program 10 Juta sapi HKTI NTB ini merupakan program riil dengan tahapan perhitungan yang rigid. Sebagaimana dirincikan detailnya dalam draft perjanjian kerjasama antara HKTI NTB, PT. Karya Hoqi dan PT. Mineral Energi Mulia (MEM).

Pertama, HKTI NTB kerjasama dengan PT. MEM yang tidak lain merupakan anak perusahaan dari PT. Karya Hoqi, dimana PT MEM ini selaku pihak yang mendatangkan sapi dari Australia. Sementara untuk modal HKTI NTB itu bersumber dari PT. Karya Hoqi.

Kontrak kerjasama antara HKTI NTB dengan PT. Karya Hoqi ini merupakan kontrak kedua setelah kontrak pertama dengan PT.MEM.

Pada kontrak kedua ini lanjut Iwan, PT. Karya Hoqi berkewajiban untuk membeli kembali kepada HKTI NTB dalam bentuk daging yang sudah dipotong, dan PT. Karya Hoqi selaku pembeli memasarkannya ke pasar yang sudah jelas, yaitu pangsa pasar Timur Tengah.

“Jadi dua kontrak, pertama kontrak dengan PT. MEM dengan HKTI NTB untuk pembelian sapi. Dana modal HKTI NTB berasal dari PT Karya Hoqi.

Nantinya sapi yang dikelola oleh HKTI NTB ini, dibeli kembali oleh PT. Karya Hoqi dalam bentuk daging yang siap diekspor ke Timur Tengah.

Memperjelas posisi HKTI NTB dalam sistem kerjasama itu, utamanya terkait dengan permodalan, Iwan menjelaskan lagi secara detail.

“Modal awal ini kita telah MoU dengan PT Karya Hoqi. PT Karya Hoqi menaruh modalnya secara sah di rekening HKTI NTB untuk dijadikan modal bagi HKTI membeli sapi kepada PT MEM. Harus diketahui juga PT MEM ini adalah anak perusahaan dari PT Karya Hoqi, jadinya Direktur Utamanya satu, yaitu Haji Bachtiar,” imbuhnya.

Dalam kontrak kerjasama antara HKTI NTB dengan PT. MEM Jelas tertulis dalam draf kerjasama kedua belah pihak, jika HKTI NTB akan di dropkan 10 juta sapi secara bertahap dalam jangka waktu 5 tahun. Dengan catatan jika tidak cukup 5 tahun, maka HKTI NTB diberikan waktu tambahan. Adapun rincinya 600 ribu ekor sapi per tahun.

“Jadi perjanjian kontrak kerjasama antara HKTI NTB dan PT. MEM yang merupakan anak perusahaan dari PT Karya Hoqi. HKTI NTB akan di dropkan 10 juta ekor sapi bakalan (brahma) dalam 5 tahun, dengan catatan, jika tidak cukup 5 tahun, maka akan ada perpanjangan bagi HKTI NTB per tahunnya akan di dropkan 600 ribu ekor sapi,” urai nya.

Angka 10 juta ekor sapi yang diberikan kepada HKTI NTB itu merupakan jumlah kuota yang diberikan oleh Kementerian Pertanian RI kepada PT. Karya Hoqi untuk memenuhi pasar ekspornya ke Timur Tengah. Artinya PT. Karya Hoqi melimpahkan seluruh kuotanya untuk HKTI NTB.

“Adapun Kenapa kita taruh 10 juta, karena itu merupakan kuota yang diberikan oleh Kementerian Pertanian kepada PT. Karya Hoqi untuk ekspor daging ke Timur Tengah, yaitu sebanyak 10 juta ekor” ungkapnya.

Lebih lanjut, “HKTI NTB akan membeli sapi dari anak perusahaan PT. Karya Hoqi yaitu PT. MEM, sebanyak jumlah kuota tersebut. Jadi dari Australia didatangkan ke NTB, dari NTB dipelihara 3 bulan, seterusnya disembelih di Lombok, dipacking di Lombok, baru diekspor ke Timur Tengah dan berbagai negara,” paparnya.

Apabila 10 juta sapi itu tidak mampu dikelola oleh HKTI NTB dalam waktu 5 tahun yang telah ditetapkan, maka HKTI NTB telah mengantisipasi kemungkinan dengan menjalin kerjasama dengan DPP HKTI Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk penyediaan lahan ternak.

“Jadi 10 juta itu, ketika tidak cukup di NTB kita akan lari ke NTT, karena bekerja sama dengan PT Karya Hoqi ini tidak mutlak di Lombok dan Sumbawa, kami juga sudah menyiapkan lahan di wilayah NTT, bekerjasama dengan DPP HKTI Nusa Tenggara Timur,” tegasnya.

Sambung Iwan, tidak benar jika akan didatangkan langsung secara bersamaan sebanyak 10 juta sapi ke NTB, atau 1 juta sapi ke Lombok Timur dalam satu waktu di tempat yang sama, malahan menurutnya hal itu adalah sebuah kemustahilan.

“Tidak benar dan tidak mungkin 10 juta sapi ke NTB atau 1 juta untuk Lombok Timur sekaligus. Itu mustahil. Tapi akan dijalankan bertahap. Jadi tidak ada hal-hal yang aneh di sini, tidak ada hal-hal yang tidak masuk akal, jadi prosedurnya pun sangat gampang, jadi kita HKTI NTB mencari peternak yang betul-betul peternak,” sebutnya.

Dirinya juga menyatakan jika saat ini, pihaknya di HKTI NTB akan berupaya maksimal mendatangkan 25 ribu ekor sapi di triwulan ke lV, atau sampai akhir tahun 2020 ini, sembari menunggu normalnya prasarana dan sarana serta aktivitas Pelabuhan Pelindo ll Gili Mas Lombok Barat.

“Nah kami berupaya 25.000 ekor untuk tahun 2020, sisa akhir tahun ini didatangkan di tahun ini, sementara 2021 berlaku normal, menunggu normalnya Pelabuhan Pelindo ll yang ada di Gili Mas,” katanya.

Nantinya dalam keadaan normal, dalam satu bulan akan dilakukan pengiriman sapi dari Australia ke NTB sebanyak 50 ribu ekor sapi.

“Muatan 1 kapal 25 ribu ekor, kalau normal nantinya, harapan saya setiap bulan itu 2 kapal, berarti rata-ratanya 50 ribu ekor sapi per bulan. Itu normalnya,” sebutnya.

Dalam kesempatan itu, Ia juga menjelaskan secara rinci kembali, terkait pola binaan bagi peternak yang akan menerima program HKTI NTB ini.

“Sistemnya juga bukan “ngadas” yang memiliki kadang keuntungannya dibagi 3. Nanti peternak itu akan mendapatkan keuntungan pasti, yaitu 100 persen dari berat lebih sapi pada penimbangan awal/bibit,” paparnya.

Lebih lanjut dirinya juga menjelaskan terkait prioritas yang dituju dari program ini yaitu orang yang betul-betul berprofesi sebagai peternak, baru selanjutnya ke pola lain berkerja sama dengan pondok pesantren.

“Program ini diprioritaskan untuk “pengadas, Peternak atau orang-orang yang ingin belajar menjadi peternak. setelah itu terealisasi, baru kita beralih ke pondok-pondok pesantren, yang tentunya tidak mungkin dipelihara oleh seluruh masyarakat kita yang bukan peternak, karena memelihara sapi ini juga butuh ketekunan, keuletan,” ungkapnya.

Tegasnya kembali, program sapi ini tidak mungkin akan diberikan kepada orang yang tidak memiliki keahlian di peternakan sapi, karena ada konsekuensi masing-masing, baik itu penerima program (peternak) dan atau HKTI NTB sendiri.

“Jadi tidak bisa mentang-mentang kita berikan kepada guru dan masyarakat yang tidak punya keahlian beternak sapi untuk kita berikan. Tidak. Nanti mereka demam panggung, seolah-olah ini seperti sapi bantuan hibah. Rugi kita. Jadi tidak demikian”

Sambungnya semua sama-sama memiliki tanggung jawab, peternak memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan menambah berat, semakin rajin, semakin besar, semakin banyak keuntungan,” cetusnya.

Untuk harga daging sapi yang akan dibeli oleh PT. Karya Hoqi kepada peternak binaan HKTI NTB, sudah tercantum dalam nilai kontrak yakni Rp 55 ribu/Kg dari berat hidup sapi per ekor.

“Untuk harganya, kita mengacu harga dunia dan tertera di kontrak yaitu 55.000/Kg berat hidup. Jadi sangat tinggi, di atas rata-rata angka berat hidup sapi lokal, jadi untuk itulah kami harapkan kepada seluruh masyarakat peternak untuk mempersiapkan diri,” harapnya.

Hal lain yang tidak luput dari perhatiannya adalah soal ketersediaan pakan dan kualitas kandang. Dari itu HKTI NTB tegasnya akan memberikan bantuan modal awal kepada peternak, sesuai dengan jumlah sapi yang akan digemukkan oleh peternak bersangkutan baik untuk biaya pakan dan pemeliharaan kandang.

“Yang paling penting ketersediaan pakan di wilayah setempat, tidak bisa serta-merta kita taruh sapinya kalau pakannya tidak ada, karena ada dua jenis nanti pakannya, ada pakan fermentasi juga ada pakan alami berupa tanaman hijau rerumputan yang harus dicari oleh peternak.

Menyikapi itu HKTI juga menyediakan modal awal bagi peternak. Modal awal di HKTI itu untuk pembelian pakan dan untuk pemeliharaan kandang, sesuai dengan ternak sapi yang diterimanya,” ulasnya.

Dirinya juga memastikan jika tidak ada praktek pungutan dari awal sampai akhir bagi peternak dalam program HKTI NTB ini. Bahkan jika ada temuan, Ia meminta untuk segera dilaporkan ke pihaknya.

“Jadi tidak ada pungutan 1 rupiah pun. Kalau ada yang mengatasnamakan HKTI memungut dana untuk program ini tolong laporkan kepada kami, karena sampai proses penjualan pun tidak ada dipungut peternak itu. Jadi tidak dibebankan, semua boleh mengakses program ini yang penting dia peternak atau mau belajar beternak, yang penting ada kandang dan ketersedian pakan di lokasi itu,” tegasnya.

Atas penjelasannya itu, dirinya meminta bantuan kepada media agar mensosialisasikan program ini secara utuh. Agar tujuan dan maksud dari program ini diketahui utuh oleh masyarakat, serta menghindari cemoohan atau pesimisme pihak yang tidak memahami program ini.

“Kepada rekan-rekan media juga kami mengharapkan bantuannya, untuk menyampaikan informasi ini secara utuh kepada masyarakat secara utuh, dan kepada para pihak yang masih mempertanyakan program ini. Tujuan program HKTI ini riil, nyata untuk mensejahterakan masyarakat NTB, Lombok Timur pada khususnya,” tutupnya.


guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Baca Juga :

Close