Terjemahan
Anews. Menjawab tantangan perkembangan industri pariwisata Nusa Tenggara Barat yang semakin pesat, Pondok Pesantren Assyafi’iyah meluncurkan program English for Tourism, pelatihan khusus bahasa Inggris yang dirancang membekali santri dengan keterampilan komunikasi praktis untuk melayani wisatawan, sekaligus mendukung pengembangan pariwisata halal di wilayah Lombok Utara. Kegiatan berlangsung sejak April hingga Juni 2026, setiap Selasa dan Kamis pukul 16.20–17.50 WITA, sebanyak 12 sesi dengan durasi 90 menit setiap pertemuan.
Disusun oleh Iskandar Abdurrahman, mahasiswa Pascasarjana Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang, program ini menargetkan santri kelas VIII MTs hingga kelas XI Aliyah yang memiliki minat bahasa Inggris dan komitmen tinggi, serta telah mendapatkan izin dari pengasuh pesantren. Program ini menjadi langkah nyata menjembatani keunggulan potensi lokal dengan kebutuhan nyata dunia kerja, mengingat Lombok, Gili, dan Gunung Rinjani menjadi destinasi unggulan yang terus dikunjungi wisatawan mancanegara.
“Selain ilmu agama, santri perlu dibekali keterampilan vokasional agar memiliki daya saing. Program ini mengajarkan bahasa Inggris dalam konteks nyata: mulai menyapa tamu, menjelaskan destinasi, melayani permintaan, hingga transaksi jual beli dan penanganan keluhan,” jelas Iskandar, penanggung jawab kegiatan.
Materi disusun bertahap dan sistematis: mulai dari sapaan dan perkenalan, informasi wisata, pelayanan tamu, transaksi, hingga simulasi panduan wisata dan presentasi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa, tetapi juga membangun rasa percaya diri santri berinteraksi dengan orang asing, sekaligus mengenalkan peluang karir di sektor pariwisata serta menanamkan semangat kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Bagi pesantren, program ini meningkatkan kualitas lulusan yang memiliki keahlian ganda: kokoh dalam nilai agama namun terampil secara profesional. Bagi daerah, kegiatan ini melahirkan sumber daya manusia lokal yang kompeten, menjadi garda terdepan pelayanan pariwisata halal, dan memperkuat ekosistem wisata yang ramah, berbudaya, dan berkarakter.
Kegiatan ditutup dengan evaluasi dan pemberian sertifikat bagi peserta yang dinyatakan lulus, yang nantinya dapat digunakan sebagai bekal melamar pekerjaan atau mengembangkan usaha mandiri di sektor pariwisata. Inisiatif ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah daerah dalam memajukan pariwisata berbasis nilai agama dan budaya, sekaligus membuktikan bahwa pesantren dapat menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia yang andal dan berkontribusi langsung bagi kemajuan ekonomi masyarakat.

