Penggunaan Aplikasi Peduli Lindungi di Kota Mataram Masih Rendah, Bagaimana Pandangan Sosiologi?

Penggunaan Aplikasi PeduliLindungi di Kota Mataram Masih Rendah, Bagaimana Pandangan Sosiologi?

Perkembangan Pandemi Covid-19

Sejak tahun 2019, Covid-19 menjadi hal yang menakutkan bagi seluruh warga dunia, khususnya masyarakat Indonesia. Perkembangan pandemi Covid-19 selain merubah tatanan kehidupan sosial juga memaksa masyarakat agar lebih adaptif terhadap berbagai bentuk perubahan sosial yang diakibatkan, beberapa diantaranya seperti menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, rajin mencuci tangan serta menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Hingga saat ini Covid-19 terus bermutasi dan memakan korban jiwa yang tentunya tak sedikit, virus ini pun telah memiliki berbagai varian seperti varian Delta hingga varian Omicron, diketahui pada tahun 2022 virus Covid-19 dengan varian Omicron sedang menyebar luas, Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus berpendapat bahwa Covid-19 dapat berlalu dan dikalahkan di tahun 2022 jika negara-negara di dunia dapat saling bekerja sama untuk mengatasi penyebaran Covid-19 yang semakin meluas.

Pemerintah menempuh berbagai cara dalam mengurangi lonjakan jumlah kasus Covid-19 diantaranya dengan dilakukannya vaksinasi kepada masyarakat, setelah diberlakukannya vaksin Covid-19 tersebut, pemerintah juga semakin ketat dalam mengawasi masyarakatnya dalam rangka menekan jumlah lonjakan virus Covid-19 yakni dengan cara mensosialisasikan penggunaan Aplikasi PeduliLindungi.

Mengenal Aplikasi PeduliLindungi dan Realitasnya dalam Masyarakat
Melalui halaman resminya, Aplikasi PeduliLindungi yaitu sebuah aplikasi yang dikembangkan untuk membantu instansi pemerintah dalam melakukan pelacakan untuk menghentikan penyebaran penularan virus Covid-19.

Aplikasi ini membutuhkan partisipasi masyarakat secara keseluruhan agar saling membagikan informasi mereka seperti data lokasi masyarakat bepergian sehingga memudahkan penelusuran riwayat penderita Covid-19 dan riwayat kontak.

Penggunaan aplikasi ini sangat membantu masyarakat serta pemerintah dalam menjangkau informasi seputar Covid-19 karena pengguna aplikasi PeduliLindungi akan mendapatkan notifikasi atau pemberitahuan apabila berada dalam keramaian atau berada di dalam zona merah yaitu area yang menunjukkan adanya orang yang terinfeksi Covid-19 atau pasien dalam pengawasan.

Realitas terkini pada masyarakat Kota Mataram menunjukkan penggunaan aplikasi PeduliLindungi tak seperti yang diharapkan. Hal ini seperti yang diucapkan oleh Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa yang mengatakan bahwa sosialisasi terkait penggunaan aplikasi PeduliLindungi telah dilakukan hingga dengan diturunkannya surat edaran, namun ia mengatakan bahwa partisipasi masyarakatnya masih rendah.

Hingga saat ini pemerintah masih melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait penggunaan aplikasi PeduliLindungi, bahkan pemerintah menjadi lebih tegas kepada masyarakat dan dikabarkan akan dilakukannya pemberlakuan sanksi terhadap masyarakat yang tidak patuh terhadap aturan baru tersebut.

Tindakan Masyarakat ditinjau dari segi Sosiologi.

Definisi partisipasi masyarakatnya masih rendah tentu menggambarkan bahwa ada sebagian kecil masyarakat yang patuh terhadap aturan pemerintah, lalu bagaimana dengan yang lain? Sosiologi sendiri memiliki studi terkait tindakan sosial.

Max Weber seorang Sosiolog mengklasifikasikan teori tindakan sosialnya menjadi 4 tipe diantaranya: Tindakan Rasional Instrumental, tindakan ini memiliki tujuan dan pencapaian melalui cara-cara yang rasional. Tindakan Rasional Nilai, tindakan ini berkaitan dengan nilai, etika, agama dan nilai yang ada dalam masyarakat.

Tindakan Afektif yakni tindakan yang refleks sebagai suatu reaksi atas emosi yang seseorang rasakan, kemudian Tindakan Tradisional didasarkan kepada sesuatu yang bersifat turun temurun yang menjadi kebiasaan atau tradisi.

Penulis menganggap bahwa kurangnya partisipasi masyarakat Kota Mataram terhadap penggunaan aplikasi PeduliLindungi termasuk kedalam tindakan rasional instrumental, masing-masing individu di Kota Mataram didasari oleh asumsi dan pemikiran rasional bahwa keberadaan aplikasi PeduliLindungi dirasa belum cukup tepat dalam membantu menurunkan kasus Covid-19 di Kota Mataram, banyak dari masyarakat yang meragukan keefektifan aplikasi PeduliLindungi tersebut.

Saat ini memang banyak sekali beredar kontroversi terkait aplikasi PeduliLindungi dari berbagai media, mulai dari anggapan bahwa aplikasi ini dinilai merepotkan, menghabiskan ruang penyimpanan ponsel mereka, menghabiskan kuota, sistem yang dinilai masih “ngaco”, hingga dituding mencuri data pengguna.

Tindakan rasional instrumental didasari pertimbangan-pertimbangan aktornya yakni masyarakat itu sendiri. Efisiensi dan efektifitas lebih diutamakan oleh mereka, namun atas pemikiran dan asumsi mereka yang demikian saya rasa memang inilah realita yang harus dihadapi masyarakat, manusia cenderung memilih sesuatu yang menurutnya tidak merepotkan sebagai wujud rasionalitas manusia yang mengutamakan logika.

Disisi lain, pemerintah dan sebagian masyarakat yang telah ikut berpartisipasi juga melakukan tipe tindakan rasional instrumental, tindakan ini memperhitungkan kesesuaian cara yang digunakan dan tujuan yang ingin dicapai.

Saat ini masyarakat diwajibkan menggunakan aplikasi PeduliLindungi setiap memasuki area publik, lalu apakah sebenarnya mereka melakukan hal demikian dengan keinginan sendiri? Belum tentu, mereka memiliki alasan tersendiri yang dianggap rasional, beragam alasan yang menjadi motif tindakan masyarakat tentunya beragam, ada yang memang sangat percaya keefektifan aplikasi tersebut, ada pula yang hanya sekedar formalitas semata agar keberlangsungan kegiatan mereka tidak terhambat.

Penulis: Aluh Evita Silfiana Dewi (Mahasiswi Prodi Sosiologi Universitas Mataram)

 

Tags
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Baca Juga :

Close
Close