Masyarakat Pada Masa Pandemi, Dari Perspektif Sosiologis


Pandemi Covid-19 menciptakan keadaan dimana masyarakat siap tidak siap harus menerima perubahan dan keadaan serta protokol normal baru atau sering disebut “new normal”. Hal ini tentu bisa menggoyahkan nilai dan norma yang sudah ada didalam masyarakat.

Disorganisasi dalam masyarakat menciptakan situasi yang tidak menentu, bahkan berdampak pada tatanan sosial masyarakat. masyarakat yang awalnya saling peduli, saling bekerja sama dan membantu bila ada yang membutuhkan pertolongan, berubah menjadi masyarakat yang apatis dan mementingkan diri sendiri. Selain itu akibat Disfungsi sosial membuat masyarakat tidak mampu menjalankan fungsi sosialnya sesuai dengan status sosialnya sendiri. Misalnya tenaga medis yang tidak maksimal menjalankan perannya karena takut dan cemas akan virus corona, dan selain itu masyarakat juga kerap berprasangka buruk terhadap orang lain. Masyarakat menjadi tidak peduli dan tidak mau menolong oranglain yang belum tentu terjangkit virus.

Menurut George Ritzer dalam paradigma perilaku sosial, tingkah laku seorang individu mempunyai hubungan dengan lingkungan yang mempengaruhinya dalam bertingkah laku. Sikap dan perilaku individu yang apatis dan suka berprasangka sehingga menimbulkan disorganisasi dan disfungsi sosial tersebut disebabkan oleh lingkungan yang dikarenakan Covid 19.

Menurut Talcott Parsons, sosialisasi pertama kali terjadi pada diri individu, disini pemerintah melakukan sosialisasi dan himbauan untuk menerapkan protokol kesehatan dan new normal.

Kemudian setelah sosialisasi tersebut ditanamkan, masyarakat akan memiliki nilai dan norma baru, yaitu kebiasaan-kebiasaan dan aturan baru seperti belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah, di sini lah proses internalisasi kemudian makin menguat. Kemudian masyarakat akan memiliki yang namanya kesadaran kolektif. Disini individu sudah menjadi bagian yang sangat melekat pada diri masyarakatnya.

Selanjutnya dalam konteks tindakan sosial aktor, tindakan manusia itu bersifat voluntaristik, yang di mana voluntaristik ini masyarakat menerima nilai-nilai, norma-norma dan juga aturan-aturan tersebut.

Perubahan-perubahan sosial dimasa pandemic Covid-19 ini melahirkan kebiasaan baru berupa perubahan perilaku sosial masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tingkah laku individu itu dipengaruhi oleh lingkungannya. Dimasa pandemic Covid-19 ini, teknologi menjadi sangat penting yang dijadikan sebagai perantara masyarakat dalam melakukan interaksi sosial.

Akibat adanya wabah virus corona ini, terjadi peningkatan pesat terhadap penggunaan perangkat teknologi informasi.

Saat ini, teknologi informasi memiliki peran yang sangat penting, terlebih dalam sektor pendidikan yang saat ini melakukan pembelajaran jarak jauh melalui metode daring dengan memanfaatkan internet.

Dengan adanya penerapan new normal di Indonesia, bukan berarti kita merdeka dari Covid-19. Masyarakat dituntut untuk merubah perilaku lama menjadi suatu kebiasaan baru dengan memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, serta harus mematuhi protokol kesehatan.

Dalam hal ini, masyarakat tidak boleh menunjukkan aktivitas normal tanpa mematuhi aturan protokol kesehatan. Dalam keadaan sekarang ini, masyarakat harus membiasakan diri melakukan budaya Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) agar mengurangi resiko terjangkit virus corona.

Firdaus Abdul Malik
Mahasiswa Sosiologi Universitas Mataram


guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Baca Juga :

Close