Anews. Ancaman bencana di kawasan Gunung Rinjani menuntut kesiapsiagaan yang lebih dari sekadar prosedur evakuasi. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menggandeng Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk memperkuat mitigasi melalui Sistem Informasi Gunung Merapi Inklusif (SIGUMI), sebuah aplikasi digital yang dirancang mendukung penyebaran informasi peringatan dini dan penanganan darurat.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama, diseminasi hasil penelitian, serta peluncuran SIGUMI di Rupatama 1 Kantor Bupati Lombok Timur. Kegiatan itu juga dirangkaikan dengan sosialisasi dan pelatihan mitigasi bencana melalui skema riset komunikasi bencana inklusif untuk mendukung pariwisata berkelanjutan di kawasan rawan bencana.
Selain Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat, riset ini mencakup kawasan Gunung Merapi di Yogyakarta dan Gunung Agung di Bali.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur, Lalu Mulyadi, mengatakan daerahnya menghadapi beragam ancaman bencana. Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Provinsi NTB periode 2025–2030 yang disampaikannya, NTB berada di peringkat ketujuh secara nasional dalam tingkat kerawanan bencana.
Adapun Lombok Timur menghadapi hampir 11 jenis ancaman, mulai dari erupsi gunung berapi, gempa bumi, banjir bandang, banjir rob, tanah longsor, angin puting beliung, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga tsunami.
Di sisi lain, Lombok Timur memiliki kepentingan besar menjaga keberlanjutan sektor pariwisata. Kawasan Gunung Rinjani merupakan salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di NTB, bersama kawasan Mandalika dan Tiga Gili.
Kondisi tersebut menempatkan keselamatan wisatawan sebagai salah satu persoalan penting dalam pengelolaan destinasi. Informasi mengenai potensi bahaya, perubahan status aktivitas gunung, dan prosedur evakuasi perlu tersampaikan secara cepat kepada pengunjung maupun petugas di lapangan.
Menurut Mulyadi, berdasarkan laporan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 30 September 2026, Gunung Rinjani sempat berada pada Level II. Ia menjelaskan, apabila status aktivitas gunung meningkat, BPBD akan memberikan rekomendasi kepada bupati terkait langkah evakuasi pengunjung yang beraktivitas di kawasan tersebut.
“Dengan aplikasi SIGUMI, diharapkan tim akan lebih mudah menentukan titik korban atau lebih cepat mengeluarkan rekomendasi dan peringatan dini,” kata Mulyadi.
SIGUMI dikembangkan untuk membantu menjawab kebutuhan tersebut. Aplikasi berbasis perangkat bergerak ini dirancang mendukung penyampaian informasi mitigasi pada fase prabencana dan penggunaan koordinat untuk membantu penanganan pada fase tanggap darurat.
Namun, efektivitas sistem semacam ini tidak hanya ditentukan oleh keberadaan aplikasi. Kecepatan pembaruan informasi, keakuratan data, kesiapan petugas, akses komunikasi di kawasan pegunungan, serta pemahaman wisatawan terhadap peringatan yang diterima turut menentukan manfaatnya dalam situasi darurat.
Bupati Lombok Timur H. Hairul Warisin menyambut kerja sama dengan UMY tersebut. Ia menyatakan pemerintah daerah mendukung penguatan mitigasi, baik melalui kebijakan maupun regulasi.
“Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur sangat mendukung tidak hanya dalam bentuk kebijakan, tetapi juga regulasi dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda),” ujar Hairul.
Ia juga menyatakan pemerintah daerah akan mendorong digitalisasi dalam berbagai aspek kegiatan. Menurut dia, kehadiran SIGUMI dapat membantu upaya antisipasi bencana.
“Kami bersyukur dengan hadirnya SIGUMI untuk antisipasi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Riset Inovatif Produktif (Rispro), Adhiyanti Nurjanah, menjelaskan bahwa SIGUMI dibangun dengan empat pilar utama: mitigasi bencana, komunikasi inklusif, kolaborasi pentahelix, dan pariwisata berkelanjutan.
BPBD dan Dinas Pariwisata ditunjuk sebagai administrator aplikasi. Tim peneliti juga mendorong masyarakat, khususnya para pendaki, untuk berpartisipasi dalam pemanfaatan sistem tersebut.
“Semua pihak diharapkan dapat mengunduh aplikasi ini, terutama para pendaki, dan benar-benar menjadi kontributor untuk mengurangi risiko bencana di sekitar gunung berapi. Kami juga berharap adanya Perda tentang kebencanaan,” ujar Adhiyanti.
Ia mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menyampaikan hasil penelitian selama satu tahun sekaligus mendorong penerapan hasil riset agar memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan kebencanaan di Lombok Timur.
SIGUMI dirancang untuk menyediakan informasi mitigasi bencana gunung berapi yang mudah diakses dan relevan bagi masyarakat, wisatawan, pengelola destinasi, serta pemerintah. Aplikasi ini juga diharapkan mendukung penyebarluasan informasi kebencanaan dan pengembangan penelitian mitigasi.
Meski demikian, aplikasi tersebut masih dalam proses pengembangan dan dipersiapkan untuk diunduh melalui Google Play Store dan Apple App Store.
Setelah penandatanganan kerja sama, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi mitigasi bencana di kawasan wisata rawan bencana dan pemanfaatan SIGUMI oleh Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan. Tim Rispro juga menggelar uji coba penggunaan aplikasi.
Kehadiran SIGUMI membuka peluang penguatan sistem komunikasi bencana di kawasan wisata Gunung Rinjani. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut benar-benar dapat diakses, dipercaya, dan digunakan oleh masyarakat serta petugas ketika ancaman muncul.
Sebab, dalam penanggulangan bencana, peringatan dini hanya akan berarti jika informasi sampai kepada orang yang tepat dan diikuti tindakan yang cepat.
