Kemarau Panjang Ancam Jadwal Tanam Petani Lotim, Hujan Diprediksi Mundur Hingga Januari
Terjemahan

Anews. Ancaman kemarau panjang membayangi petani di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menjelang musim tanam ketiga (MT III). Jika musim hujan datang lebih lambat dari pola normal, jadwal tanam petani berpotensi mundur dan ketersediaan air untuk pertanian semakin terbatas.
‎
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, Lalu Fathul Kasturi, mengatakan kondisi iklim saat ini menjadi tantangan bagi petani yang tengah mempersiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya.
‎
Menurut Fathul, musim hujan di Lombok Timur biasanya mulai berlangsung pada pekan keempat November. Namun, berdasarkan prakiraan BMKG yang dirujuk nya, musim hujan diprakirakan baru tiba pada awal Januari, dengan curah hujan yang relatif tinggi dalam periode yang lebih pendek.
‎
‎“Ini masih bersifat prakiraan cuaca. Musim penghujan bisa maju dan mundur,” kata Kasturi saat ditemui media di ruang kerjanya, Jumat, 9 Oktober 2026.
‎
‎Ia mengingatkan, kemarau panjang berpotensi menggeser jadwal tanam petani. Kondisi tersebut menjadi perhatian menjelang pelaksanaan musim tanam ketiga, terutama di wilayah yang bergantung pada ketersediaan air hujan.
‎
Di tengah kondisi kemarau, aktivitas pertanian di Lombok Timur masih berlangsung. Sejumlah petani di wilayah selatan dipantau masih menyelesaikan panen tembakau.
‎
‎Sementara itu, petani di wilayah tengah, Jerowaru, Pringgabaya, dan Sambelia mulai membersihkan lahan untuk mempersiapkan musim tanam berikutnya.
‎
‎Fathul mengatakan, persiapan lahan menjadi bagian dari upaya petani menghadapi perubahan kondisi iklim. Namun, keberhasilan penanaman tetap bergantung pada ketersediaan air dan waktu datangnya hujan.
‎
‎Ia juga menyinggung fenomena El Niño kuat yang disebutnya sebagai El Niño Godzilla. Menurut dia, kondisi tersebut menambah tantangan bagi sektor pertanian di tengah kemarau panjang.
‎
‎Menghadapi ancaman kekeringan, Dinas Pertanian Lombok Timur terus melakukan sejumlah langkah adaptasi untuk menjaga keberlangsungan produksi pertanian dimasa mendatang.
‎
‎Upaya tersebut meliputi pembangunan irigasi perpipaan, irigasi perpompaan, dan dam parit untuk membantu menyediakan air bagi lahan pertanian.
‎
‎Menurut Fathul, langkah tersebut diperlukan agar petani tetap memiliki akses terhadap sumber air di tengah perubahan pola cuaca.
‎
‎Ia menilai upaya antisipasi dan adaptasi harus terus dilakukan untuk mempertahankan ketahanan pangan daerah. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian ketika musim hujan mengalami pergeseran.
‎
‎Di tengah kemarau yang berlangsung, sejumlah wilayah di bagian utara Lombok Timur masih melakukan penanaman. Fathul menyebut hasil pemantauan di Sambelia menunjukkan masih banyak tanaman jagung dan padi di lahan pertanian.
‎
‎“Kondisi ketahanan pangan kita cukup baik. Di Sambelia juga kemarin kami melakukan monitoring dan melihat cukup banyak tanaman jagung dan padi,” ujarnya.
‎
‎Ia menambahkan bahwa berbagai langkah antisipasi telah dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim. Namun, tantangan sektor pertanian ke depan tetap perlu diwaspadai.
‎
‎“Antisipasi dan adaptasi sudah kita lakukan untuk menghadapi perubahan-perubahan iklim. Ini siklus 10 tahun terjadi seperti ini. Intinya, tantangan ke depan tetap ada akibat anomali iklim kita,” kata Fathul.
‎
‎Meski pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah adaptasi, kepastian waktu datangnya musim hujan tetap menjadi faktor penting bagi petani dalam menentukan jadwal tanam.
‎
Jika hujan baru turun pada Januari, sebagaimana prakiraan yang disampaikan Kasturi berdasarkan rilis terbaru BMKG, petani perlu menyesuaikan strategi pengelolaan lahan dan kebutuhan air. Di sisi lain, efektivitas infrastruktur pengairan yang dibangun pemerintah akan menjadi salah satu penentu kemampuan sektor pertanian Lombok Timur bertahan menghadapi kemarau panjang.

guest

0 Komentar
terbaru
terlama terbanyak disukai