Cegah Stunting Menuju Generasi Emas

Cegah stunting menuju generasi emas

Oleh. Desi Raudatul Janah (LIC019028) Mahasiswa Sosiologi Universitas Mataram

Stunting merupakan terjadinya hambatan dan perkembangan organ tubuh yang prosesnya telah terjadi sejak dini. Saat dalam kandungan bersamaan dengan berkembangnya otak, jantung, ginjal dan organ lainnya. Masalah stunting di Indonesia menjadi ancaman serius yang memerlukan penanganan yang cepat dan tepat.

Berdasarkan Survei Status Balita Indonesia (Ssgbi) pada tahun 2019, pervelensi stunting Indonesia telah mencapai angka 27,7%, artinya satu dari empa balita mengalami stunting. Dengan angka tersebut Indonesia mengalami kasus stunting yang melebihi batas yang di tetapkan WHO yaitu 20%.

Adapun pada kondisi di tengah pandemic saat ini, Indonesia sedang mengalami krisis dalam bidang perekonomian dimana pengangguran dan kemiskinan semakin meningkat. Tak dapat di pungkiri bahwa peningkatan tersebut berpengaruh terhadap prevelensi stunting di Indonesia. Faktor ekonomi keluarga berkaitan erat dengan terjadinya stunting pada anak. Hal ini karena kondisi ekonomi seseorang memengaruhi asupan gizi dan nutrisi yang didapatkannya.

Generasi penerus bangsa haruslah sehat, cerdas, kreatif, dan berdaya saing. Tentu saja, hal ini hanya bisa dicapai apabila anak-anak terlahir sehat, tumbuh, dan berkembang dalam pola asuh dan gizi yang baik, serta didukung pendidikan yang berkualitas.

Sebaliknya, jika anak-anak terlahir dengan berat badan lahir rendah, tumbuh dengan kekurangan gizi kronis, mereka akan menjadi anak yang kerdil badan dan kurang cerdas atau stunting. Pola asuh orang tua juga berperan penting dalam mencegah stunting.

Oleh karena itu, perlu digencarkan penyuluhan kepada masyarakat mengenai bahaya stunting dan cara pencegahannya. Sehingga kelak ketika sudah menjadi orang tua diharapkan masyarakat dapat berperan dalam mencegah stunting sejak dini.

Sehingga, prevelensi stunting di Indonesia tidak berada di angka menghawatirkan lagi.

Di Indonesia sendiri, akses terhadap makanan bergizi seimbang belum merata. Padahal factor utama terjadinya stunting adalah kurangnya asupan gizi anak pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Pertumbuhan otak dan tubuh berkembang pesat pada 1000 HPK yag dimulai sejak janin hingga anak berumur dua tahun. Pemenuhan gizi pada tahap tersebut sangat penting agar tumbuh kembang anak dapat optimal.

Di Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2021 lalu, diharapkan kesadaran mengenai pemenuhan pangan yang bergizi seimbang di kalangan masyarakat meningkat. Dengan tema yang diusung oleh Food World Organization (FOA) pada Hari Pangan Sedunia yaitu Our Actions are Our Future. Better production, better nutrition, a better environment, and better life, partisipasi seluruh masyarakat di dunia sangat penting untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Pada tahun 2021, Kementrian Kesehatan bekerjasama dengan Biro Pusat Statistik (BPS) dengan dukungan Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia melakukan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) dengan mengumpulkan data di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota dengan jumlah Blok Sensus (BS) sebanyak 14.889 Blok Sensus (BS) dan 153.228 balita.

SSGI 2021 yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan tidak hanya memberikan gambaran status gizi balita saja tetepi juga dapat digunakan sebagai instrument untuk monitoring dan evaluasi capaian indikator intervensi spesifik maupun intervensi sensitive baik di tingkat nasional maupun kabupaten/kota yang telah dilakukan sejak 2019 dan hingga tahun 2024.

Saat ini, prevalensi stunting di Indonesia lebih baik diandingkan Myanmar (35%), tetapi masih lebih tinggi dari Vietnam (23%), Malaysia (17%), Thailand (16%) dan Singapura (4%). (Biro Komunikasi dan Pelayanan Mayarakat, Kementrian Kesehatan RI).

Berdasarkan data Pemprov NTB dan BKKBN wilayah NTB yang memiliki presentasi tingkat stunting paling tinggi terdapat di Lombok Timur yaitu lebih dari 30% pada tahun 2020-2021. Itu dikarenakan pada masa pandemic ini banyak posyandu yang tidak aktif dan membuat pelayanan terhambat.

Pemerintah NTB telah menargetkan untuk penurunan angka stunting pada tahun 2024. Beberapa wilayah dianggap dapat diturunkan menjadi 14% tetapi berbeda dengan Lombok Timur karena memiliki kasus stunting lebih dari 30%. Hal itulah yag harus di gencar agar menuju Generasi Emas NTB di tahun 2025.

Masa 1000 Hari Petama Kehidupan (HPK) terdiri atas 270 hari selama masa kehamilan dan 730 hari pada dua tahun pertama kehidupan buah hati. Pada periode emas ini akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang buah hati hingga kedepannya.

Hal ini dapat sangat tergantung pada pemenuhan gizi. Masa emas ini dimulai dari terbentuknya janin yang ada dalam kandungan sampai sang bayi berusia 2 tahun. Langkah 1000 HPK ini tidak hanya menurukan angka stunting di NTB bahkan di Indonesia tetapi juga akan meningkatkan kecerdasan seorang anak yang dapat mnsukseskan program pemerintah yaitu GEN (General Emas NTB). Dimana program pemerintah ini bertujuan untuk meningkatkan SDM yang ada di NTB dan memiliki capalan seperti mengurangi anemia remaja putri, kelas ibu, gizi, KB, Stunting (pertubuhan Anak) dan perkembangan anak (kecerdasan).

Dengan upaya kolaborasi semua pihak kita yakin dan optimistis Indonesia bisa lepas dari problem stunting yang menjadi duri dalam perjalanan menuju generasi emas. Semoga.

 

Tags
guest

0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Baca Juga :

Close
Close